5 Karakter Guru Penggerak Indonesia

GURU PENGGERAK INDONESIA - 30 September 2021
5 Karakter Guru Penggerak Indonesia
  
|
Editor supadilah

Kalau mau makan martabak
Beli saja di gerobak Pak Bayu
Indonesia butuh banyak guru Penggerak
Agar pendidikan Indonesia semakin maju

Sibuk nian Bu Aida. Beliau merupakan calon guru penggerak (CGP) angkatan 2. Memang sejak jadi CGP, beliau kelihatan banyak aktivitas. Banyak membaca modul, mengerjakan tugas, melakukan zoom meeting, melakukan presentasi dan lainnya.

Padahal saat itu Bu Aida sedang kuliah S2 juga. Tugas di sekolah juga banyak. Namun, dia tetap aktif dalam kegiatan sekolah seperti kegiatan siswa baru atau penilaian sekolah. Hebatnya Bu Aida. Meskipun sibuk, amanah jalan terus.

Program guru penggerak ramai dibicarakan. Bahkan disebut-sebut memiliki cerahnya karir masa depan. Nanti kepala sekolah tidak lagi dilakukan lewat pelatihan. Guru penggerak-lah yang punya peluang dan kemungkinan.

Belum semua guru yang bisa ikut program CGP. Tapi setiap guru tetap bisa menjadi guru penggerak. Bagaimana caranya? Milikilah karakter-karakter guru penggerak.
Inilah karakter-karakter guru penggerak.

1. Guru Pembelajar

Seorang guru penggerak harus mau belajar lagi. Setelah jadi guru, bukan berarti lantas berhenti belajar. Guru harus mau belajar sepanjang hayat. Seperti CGP, mereka mau belajar lagi, melek teknologi, membaca berbagai modul, dan melakukan presentasi.

Itu tujuannya untuk meningkatkan kemampuan diri. Bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri tapi agar pendidikan lebih maju lagi.

2. Memahami

Guru memahami siswa (Sumber : aset Canva)

Seorang guru penggerak harus mampu memahami. Bahwa setiap anak itu cerdas. Kecerdasan bukan hanya dalam bidang akademik saja. Mereka punya kecerdasan bahasa, musik, olahraga, seni, dan lainnya. Dalam hal ini guru harus mengenal 8 kecerdasan yang dicetuskan Howard Gardner.

Baca Liannya  Belajar Scopus Syariah Bersama Prof. Handoyo Widodo

Guru harus memahami bahwa kemampuan siswa juga berbeda-beda. Tidak bisa menyamaratakan kemampuan siswa. Sehingga, guru memberikan porsi pengajaran sesuai kemampuan siswa pula.

3. Berkolaborasi

Tanggung jawab seorang guru itu besar. Beban guru juga berat. Tapi hal itu bisa diringankan dan diatasi dengan berkolaborasi. Kalau mau maju kita harus berkolaborasi. Sebatang lidi tidak bisa dipakai untuk membersihkan halaman. Kalau lidi bergabung dengan lidi lainnya lalu menjadi sapu bisa dipakai untuk membersihkan halaman.

Guru penggerak harus mau dan mampu berkolaborasi dengan guru lain. Bahkan dengan guru yang secara usia dan pengalaman lebih muda darinya. Jangan malu. Walaupun belajar dari siswa. Misalnya belajar teknologi darinya.

Belajar dari siswa (dokumen pribadi)

Untuk bisa berkolaborasi kita harus merendahkan ego dan ‘mengosongkan gelas’. Menganggap bahwa semua ilmu itu berharga. Mementingkan apa yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikan.

4. Melek Teknologi

Kehidupan kita tidak bisa lepas dari teknologi. Begitu juga dengan pendidikan. Ilmu bersifat dinamis, karena itu, seorang guru penggerak harus melek teknologi. Teknologi akan memudahkan guru dalam melaksanakan tugasnya.

Guru A menjelaskan dengan metode ceramah. Guru B menjelaskan menggunakan slide power point, animasi, video, audio dan lainnya. Kalau kita sebagai murid, kita akan lebih paham jika diajar oleh guru A atau guru B? Tentu saja guru B, kan?

Banyak sarana untuk belajar teknologi. Guru bisa memanfaatkan media sosial seperti Facebook, Instagram, bahkan Tik tok. Kita juga bisa ikut berbagai webinar atau pelatihan daring baik berbayar maupun gratis. Banyak pelatihan gratis. Tinggal kita mau memanfaatkannya atau tidak.

Baca Liannya  SENI KUDA KEPANG WUJUD GELORA SUMPAH PEMUDA

5. Mahir Berkomunikasi

Komunikasi yang baik sangat mendukung peran guru. Guru harus bisa berkomunikasi yang baik. Dengan Bahasa yang sederhana, mudah dimengerti, memahami lawan bicara, dan lainnya. Juga dengan cara dan tempat yang tepat.

Bagaimana kalau guru belum memiliki komunikasi yang baik? Bagaimana mengatasi gugup saat berbicara didepan umum? Padahal guru kan kan harus sering berbicara di depan umum?
Guru harus mau belajar dan berlatih. Bisa dengan memanfaatkan YouTube sebagai latihan berbicara. Daripada hanya mendengarkan akun YouTube orang lain lebih baik kita sendiri mengisinya. Bisa juga dengan mengikuti pelatihan menjadi pembicara.

Ambillah kesempatan berbicara di depan umum. Misalnya saat ada rapat sekolah, rapat keluarga, atau saat tanya jawab dalam webinar. Kemampuan komunikasi harus diasah agar terbiasa dan lancar.

Guru harus bisa berkomunikasi dengan ringkas dan jelas. Hindari terlalu menceramahi atau mengatur siswa. Bahkan guru perlu punya kemampuan mendengar siswa. Banyak orang yang masalahnya selesai dengan bercerita kepada orang lain. Bisa jadi siswa kita punya masalah dari rumahnya. Dengan mendengarkan keluh kesahnya guru bisa membantu meringankan atau menyelesaikan masalahnya.

Peran guru itu banyak oleh dari pengajar, pendidik, pelatih, orang tua, sahabat, bahkan kyai. Tugas guru banyak sekali. Tapi, jangan dianggap sesuatu hal yang membebani. Nikmati dan jalani saja dengan baik dan rapi. Lakukan sekuat tenaga dan energi. Kuncinya guru harus suci hati.

Filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara kita kembali pelajari dan ingat lagi. Menjadi guru merupakan tugas mulia sekali. Guru menciptakan orang sukses seperti gubernur, menteri, presiden, bahkan yang lebih tinggi lagi. (*)

Baca Liannya  Sosialisasi Guru Motivator Literasi Digital

 

Penulis:

Supadilah. Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Menyukai dunia literasi dan olahraga. Aktif mengelola blog pribadi www.supadilah.com dan www.aromabuku.com. Penulis buku Guru untuk Indonesia.

1 Komentar pada “5 Karakter Guru Penggerak Indonesia”

  1. Wijaya Kusumah berkata:

    Terima kasih sudah mengikuti lomba blog

Tinggalkan Komentar


Terpopuler

Mungkin Anda melewatkan ini

JUMLAH PENGUNJUNG WEB

  • 3
  • 302
  • 1.902
  • 9.542
  • 644.527
  • 116.979
Close Ads X
Jelajahi

.

.

.

.