Cerita Prof.Dr. Unifah Rosyidi, Ketua Umum PB PGRI di Norway

Bapak Ibu Yth. Izinkan saya melaporkan secara singkat perjalanan saya ke Norway atas undangan Union Edu of Norway beserta gambar seperlunya. Maaf saya jarang sekali berfoto.

UEN beranggota 189.000 guru. Dana organisasi berasal dari Iuran wajib 2.38 persen dari salary guru. Sangat besar ya?.
Gedung utamanya di main street Oslo , besar dan megah dengan pegawai hanpir 200 orang. Semua didanai dari iuran.
UEN salah satu organisasi guru negara sahabat yg telah puluhan tahun membantu PGRI dalam PGRI Edu Int Asia Pacific Consortiun Program terdiri dr UEN, Lararforbundet Sweden, Japan Teachers Union Dan Australian Education Union dan sebelumnya Natuonal Edu Union USA. Mereka semua membantu PGRI agar kuat, independen, demokratis dan sinambung (KIDS).

Program utama projek ini adalah database keanggotaan (sik), aplikasi informasi keanggotaan (asik), Teachers learning Circle (TLC) yang kita modifikasi menjadi Learning community, gender equality, and leadership/ kaderisasi.

Mereka membantu Indonesia dari iuran para guru, maka mereka kini tengah membahas facing out karena PGRI sudah saatnya benar-benar mandiri. Iuran harus tertib, dan bisa dipertanggungjawabkan. Dan perkembangan PGRI dicatat tercepat diantara organisasi manapun anggota ei.
Mantabs teman2
Ya enggak sih?👌.
Bangga sama kinerja teman2.

Ada 3 point penting yang saya lakukan selama di luar negeri

  1. Menjadi pembicara utama bersama Bapak Carlos Cargaz Tamez, membahas tentang peran social dan policy dialogue dalam masa depan guru dan kualitas pendidikan. PGRI dianggap penting karena banyak perjuangan berhasil melalui policy dialogue. Kritis dan konstruktif. Collective bargaining sebagai alat perjuangan organisasi pada dasarnya dialogue. Ini pilihan strategis PGRI yang membuahkan hasil yang dicatat organisasi guru dunia. UU guru dan Dosen, PP PPPK, penambahan Kuota, dan masih banyak lainya. Selain itu PGRI melakukan reformasi dalam hal teknologi dengan didirikanya PGRI Smart Learning Center yang geliatnya membuka akses teknologi dan education bagi guru di berbagai daerah, dan juga PGRI memberi kesempatan pada kader2 nasional dan daerah untuk tampil dianggap sebagai pilihan cerdas terhadap masa depan organisasi, guru dan pendidikan.
    Seminar utama ini disiarkan secara terbuka dan diakses secara internasional.
  2. Selama di Norway acara sangat padat, sehari 3 sampai dengan 4 acara saya harus jadi pembicara. Salah satunya ketika saya harus bicara dengan pengurus UEN se Norway. Fotonya di atas ya. Kuminta mereka membuat salam perjuangan. Wow keren kan?

Hal yang dibahas digitalisasi PGRI. Wah Prof Eko Indrajit dong serinya, didukung oleh tim yang kuat dari pusat ke daerah2, dan Pengembang utama Ibu Fransiska dari Pengurus Besar dan pak James Tomasauw dari Jatim, reformasi di bidang digital ini sangat menginspirasi mereka. Mereka bilang kami aja di Eropa gak sampai demikian seriusnya di bidang teknologi. Paparan dengan video dan foto2 sungguh membanggakan.
Yang tertarik dengan paparan saya hubungi mbak Tia dan pak Wijaya dan Bu Widya. Mereka akan share based on request melalui email karena besar2 kapasitas filenya.

  1. 3. Tak kalah pentingya adalah diplomasi sepak bola. Ini sungguh tak sengaja.
    Anak saya minta dibelikan Jersey dari klub Bodo Glimt, Klub Sepakbola Norway yang sekarang sedang tanding di Liga Eropa. Ini ternyata bikin geger dan riuh rendah. Rupanya kok ada dari Indonesia mengenal klub Klub Bodo Glimt ? Mereka sampai melompat kegirangan dan akhirnya aku dimerubungi mereka gara2 klub bola Bodo Glimt tersebut.

Foto yang di atas mantan pemain Bodo Glint pada waktu muda dan akhirnya Harry anak saya, diminta untuk memberikan kesaksian video mengapa dia tertarik Bodo Glimt dan akan dijadikan semcam iklan bagi mereka. Dan mereka akan mengirimkan Jersey Bodo Glimt tersebut.

Jadi ada aja jalan bikin seru dan terkenang.. he.. he..he
Inilah jalan Allah.. , maka nikmat Tuhan manakah yang Engkau dustakan?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

8 Komentar