Curhat Seorang Guru Penggerak

Dalam dunia bubur. Ada bubur diaduk dan ada bubur tidak diaduk. Keduanya sama-sama nikmat. Tinggal kita mensyukuri apa yang kita makan. Saya sendiri lebih suka bubur yang diaduk. Saya pun bergabung ke dalam komunitas bubur yang diaduk.

Dokpri
Bubur yang sudah diaduk bagi saya lebih nikmat. Sebab santannya sudah menyatu dengan bubur kacang hijau dan ketan hitam. Rasanya super duper. Enak sekali. Maknyus kata orang yang suka wisata kuliner.

Dokpri
Dalam kegiatan menjadi calon guru penggerak Atau cgp demikian juga. Kita terasa diaduk-aduk untuk menulis essay yang panjang. Bagi yang tak biasa menulis pasti akan gagal dalam seleksi cgp. Tapi bagi mereka yang sudah terbiasa menulis fiksi akan sangat mudah sekali.

Setelah itu masuklah pada tahap simulasi mengajar. Bagi anda yang tak siap jaringan internet, jangan harap bisa lulus walaupun anda sudah terbiasa mengajar. Oleh karena itu,pastikan jaringan internet di tempat anda stabil. Assesor cgp tak akan mau peduli bila jaringan di tempat anda lemot.

Setelah proses simulasi mengajar, anda akan masuk proses wawancara. Di sinilah anda akan dinyatakan lulus atau tidak lulus menjadi calon guru penggerak Kemdikbudristek. Itulah proses yang akan anda lalui dalam seleksi cgp.

Seorang cgp yang sudah ikut diklat curhat kepada saya. Beliau curhat setelah membaca tulisan karpet merah untuk guru penggerak.

Berikut curhatannya dan namanya saya rahasiakan. Semoga membuat kita punya rasa empati kepada para cgp.

Dokpri

Assalamualaikum wr.wb.  

Ngapunten sebelumnya dengan tidak mengurangi hormat saya. Bagi saya mendaftar sebagai guru penggerak bukan untuk mencari kedudukan kursi merah pak…. 

Kami dan saya khususnya ingin agar pendidikan ini maju. Tak lebih dan tak kurang. 

Saya pernah mengajar di pelosok ikut kemenag bahkan tidak digaji pak krn emis bermasalah. 

Tidak masalah bagi saya jika nantinya kami tidak mendapatkan janji itu. Bagi saya itu adalah bonus dari Allah. 

Tahukah pak Wijaya perjalanan menjadi guru penggerak sangat menyakitkan jatuh bangun membangun komunitas supaya mau tergerak, bergerak dan menggerakkan. 

Mereka mengece kami para guru penggerak tapi pada saat monggo ikut guru penggerak supaya tahu suka dukanya. 

Seperti teman-temen saya ketika saya ajak, yang mau saya merasa bersyukur, karena ada teman yang semisi. Dan ada pula yang tidak mau tapi dia merasa dirinya lebih layak memimpin karena merasa sudah senior…tapi setelah saya tanya lebih jauh krn alasan tak sanggup dg tugas cgp. 

Saya membangun semangatnya kalau dia juga bisa namun alasannya anak dll. 

Pak Wijaya selama saya jd cgp setiap kali saya berfikir bagaimana cara merancang pembelajaran yang bagus bagi murid. Mereka tidak tahu perihnya kami…hinaan kami terima pak. Jika krn jabatan mereka menyakiti kami. Saya pribadi tidak menginginkan kursi merah itu. 

Cgp membangun pola pikir yang negatif menjadi energi positif …demi kemajuan bersama. Krn bagi kami kolaborasi adalah pembangun yang kuat. Tulisan bapak membuat saya menangis.

—-++++++++——+++++

Terus terang saya sangat berempati dengan cerita tersebut. Sebab tidak mudah menjadi guru penggerak. Apalagi menjadi guru penggerak versi Kemdikbudristek.

Tahukah anda bahwa menjadi guru pelopor jauh lebih berat lagi. Sebab tak ada dan tak ada yang mau membantu ketika awal memulai. Itulah mengapa guru pelopor adalah guru yang mampu memimpin dan bukan menjadi pengekor. Mereka mampu menjadi pelopor dan agen perubahan di sekolahnya masing-masing.

Baginya bergerak dengan hati adalah kunci untuk membuat muridnya bergerak dan belajar sepanjang hayat. Filosofi kihajar Dewantara selalu dipegangnya. Tak ada dana dari pemerintah. Semua dikerjakan dengan cara-cara yang bijak dan terhormat sehingga mereka mampu menjadi guru tangguh berhati cahaya. Mereka juga belajar filosofi sang pencerah kyai haji Ahmad Dahlan. Itulah mengapa kami adakan acara nguping di SATUGURU. Supaya banyak guru memahami filosofi guru pelopor. Bukan hanya sekedar menjadi guru penggerak yang digerakkan.

Dokpri
Guru penggerak versi Kemdikbud ristek dibiayai oleh negara. Mulai dari pembuatan lms sampai nanti diklatnya. Oleh karenanya wajar kalau anda dilatih menjadi guru yang mampu memberikan aksi nyata sebab anda telah dibiayai oleh uang negara yang diambil dari pajak rakyat. Biaya yang sangat mahal itu harus anda bayar dengan menjadi guru penggerak.

Saya ucapkan selamat kepada anda yang sudah melalui proses cgp. Sebab anda melaluinya dengan penuh perjuangan nyata. Tapi ingatlah selalu bahwa apa yang anda lakukan adalah untuk memperbaiki diri anda sendiri. Setelah itu anda bagikan kepada guru lainnya. Itulah yang telah dilakukan oleh guru mitra dan guru imbas versi Kemdikbud sebelumnya. Jadi saya belum menemukan hal baru selain menggunakan sistem learning manajemen sistem atau lms dan kepemimpinan pembelajaran. Jadi diklatnya tidak otomatis untuk menjadikan cgp sebagai calon kepala sekolah.

Kami sudah menulisnya di buku guru penggerak yang dituliskan oleh Wijaya Kusumah dan ibu tuti Alawiyah. Menulis itu mudah. Itulah yang diajarkan oleh guru kami Prof. Ngainun Naim. Kami belajar menulis gratis di PGRI tanpa anggaran APBN dan APBD. Semua dilakukan secara mndiri.

Dokpri
Pelatihannya tidak begitu jauh dengan diklat sekolah penggerak yang saya ikuti. Jadi kalau anda terpilih menjadi guru penggerak dan mendapatkan sertifikat guru penggerak, gunakan sertifikat itu untuk membuat aksi nyata. Tunjukkan bahwa ilmu yang didapat selama diklat bisa anda tularkan kepada guru yang tidak ikut diklat. Bukan kepada sesama guru yang ikutan diklat.

Setiap program yang dibuat oleh Kemdikbudristek pasti akan mengundang pro dan kontra. Termasuk juga program guru penggerak. Jadi ikuti terus programnya dan kritisi kekurangan program tersebut. Dengan demikian anda menjadi guru penggerak dan bukan guru yang digerakkan Kemdikbudristek.

*KATA-KATA BIJAK ISLAMI :*

” Janganlah kamu *berburuk sangka* dari kata-kata yang keluar dari mulut *saudaramu*, sementara kamu masih bisa *menemukan makna lain yang lebih baik*. “

( Umar bin Khattab )

Salam blogger persahabatan

Omjay

Guru blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Curhat seorang Guru Penggerak”, Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/wijayalabs/620410d987000063520f55e2/curhat-seorang-guru-penggerak

Kreator: Wijaya Kusumah

Kompasiana adalah platform blog, setiap konten menjadi tanggungjawab kreator.

Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

4 Komentar