ENAM LANGKAH MENULIS BUKU

GURU PENGGERAK INDONESIA - 2 September 2020
ENAM LANGKAH MENULIS BUKU
  
Penulis
|
Editor

Minggu ini merupakan pekan paling banyak pekerjaan. Boleh dikata tugas menumpuk mulai dari persiapan monitoring dan evaluasi, melengkapi berkas KP, membuat berkas untuk selisih tunjangan kinerja dan tugas lain yang harus segera dikerjakan. Namun ada rasa penasaran untuk selalu buka group menulis, baik Group Antologi Minat Bakat Siswa, Group SPK Tulungagung dan Group Belajar Menulis Gelombang 14. Membaca group tersebut menumbuhkan rasa ingin tahu tentang kiat menulis. Sebagai penulis pemula, tulisan mereka yang rapi jadi motivasiku untuk menulis lebih baik.  Setiap membaca blog teman-teman dapat informasi dan semangat untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan positif. Setiap materi baru dari group Antologi dan Belajar Menulis, aku catat pada buku harian agar nanti bila diperlukan mudah kita temukan. Buku harianku ibarat google drive manual. Untuk menyimpan materi jika belum sempat buka laptop. Yang menarik materi tadi malam adalah materi tentang langkah menulis menjadi buku. Pematerinya seorang motivator bernama Akbar Zainudin. Beliau penulis buku Man Jadda Wajada. Pak Akbar Zainudin dalam videonya menuturkan ada 6 langkah menulis buku.  Langkah-langkah tersebut disingkat menjadi TOJTRP: Tema, Outline, Jadwal, Tulis, Revisi, dan Penerbit.

Pertama, tema. Langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan tema tulisan. Setiap buku harus mempunyai tema besar. Baik itu buku yang berjenis buku fiksi maupun buku non fiksi pasti memiliki tema. Buku fiksi misalnya cerita dan novel. Tema ini akan menjadi rel yang mengikat kita dari awal sampai akhir tulisan. Tema cukup satu saja dalam setiap buku. Contoh tema adalah  kerja keras, cara belajar, romantisme dan lain-lain. Beliau mengatakan bahwa  bukunya  kebanyakan bertema motivasi. Contoh lainnya novel Ahmad Fuadi bertema impian pendidikan pesantren. Seperti Laskar Pelangi temanya tentang impian dari kampung, sebuah pendidikan di pedesaan. Tema Novel Ayat-ayat cinta tentang  romantisme religius. Buku non fiksi misalnya tentang motivasi dan perenting. Tema menjadi benang merah dari keseluruhan tulisan kita. Beliau menyarankan sebaiknya berusahalah menulis  dengan satu tema tertentu agar dikenal ahli dalam tema tersebut. Kalau temanya berubah-ubah, nanti orang bingung, terkait bidang keahlian kita.

Baca Liannya  Rezeki dan Kematian

Kedua, outline. Beliau menyebut outline dengan daftar isi. Daftar isi ini menjadikan buku cepat selesai. Daftar isi menjadi gambaran buku kita. Jika ada orang yang bilang menulis itu cukup mengalir saja. Menurut Pak Akbar jangan hanya mengalir, tapi harus menentukan tema sebelum menulis. Daftar isi/outline membuat kita selalu pada rel yang kita tentukan. Sehingga benang merah dari buku tercapai. Selain outline bermanfaat  membuat tulisan kita selalu pada rel, daftar isi juga membatasi agar tulisan kita tidak ke mana-mana. Sekali lagi daftar isi ini  membuat buku kita cepat selesai.Tanpa daftar isi tidak punya pijakan.Tidak bisa membuat target. Intinya outline/daftar isi tidak bisa diremehkan. Jadi manfaat outline adalah: tulisan menjadi terarah, untuk membuat jadwal dan target selesainya tulisan, menghindari ngeblank saat menulis, dan agar buku cepat selesai.

Ketiga, jadwal. Selain outline bisa membuat buku cepat selesai. Jadwal juga merupakan salah satu rahasianya  buku cepat selesai atau tidak. Jadwal merupakan sebuah perencanaan. Misalnya daftar isi sebuah buku berisi 30 artikel. Buat jadwal berapa lama kita akan menyelesaikannya. Misalkan 1 artikel ditarget 1 minggu maka 30 artikel akan selesai dalam 30 minggu. Tantangannya rasa males, belum ada data dan lain-lain. Kedisiplinan mematuhi jadwal akan menentukan kapan selesainya buku. Upayakan dengan penuh kesungguhan dan kerja keras dan mentaati jadwal menjadikan buku cepat selesai.

Keempat, tulis. Tuliskan outline yang sudah ada. Menulislah sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Komitmen, disiplin dan kesungguhan akan menentukan tulisan cepat selesai. Pada langkah ini seyogyanya menuliskan semua outline sampai seluruhnya selesai. Tidak baik jika hanya terpaku pada outline pertama. Menyempurnakan outline pertama saja, bolak balik memperbaiki outline pertama. Outline pertama yang menjadi fokus utama. Sehingga outline/daftar isi berikutnya belum ditulis dengan baik. Akhirnya buku tidak terselesaikan sesuai jadwal.

Baca Liannya  Mobile Learning di Masa Pandemi

Kelima, revisi. Revisi dilakukan setelah draft tulisan selesai. Ketika seluruh artikel sudah selesai ditulis, baru kita revisi. Bagian yang direvisi adalah data dan informasi, tata bahasa, gaya tulisan dan judul. Pada gaya bahasa, antara satu tulisan satu dengan tulisan lain harus diselaraskan. Untuk judul ditulis yang menarik, sederhana dan membuat orang lain ingin tahu dan ingin membaca  buku kita.

Keenam, penerbit. Penerbit  akan menerima apabila naskah selesai. Hubungi melalui WA atau e-mail penerbit.  Penulis bisa menanyakan syaratnya buku bisa diterbitkan. Di group tersebut dijelaskan  lebih detail terkait langkah ke 6 ini. Tentang pertimbangan fihak penerbit dalam mencetak tulisan/buku yang paling utama adalah buku tersebut laku apa tidak. Karena ini menyangkut kebutuhan masyarakat pembaca. Semakin besar kebutuhan masyarakat  akan buku kita, maka peluang diterbitkan semakin besar. Karena itu sebagai penulis diharapkan mampu mempertimbangkan buku yang diterbitkan siapa yang akan beli dan yang akan baca. Yang kedua adalah daya pembeda buku kita dengan buku sejenisnya. Artinya segi kelebihan dan keunikan dibanding dengan buku sejenisnya. Yang ketiga penerbit akan mempertanyakan cara kita membantu memasarkan buku. Penulis harus punya inisiatif  untuk mengiklankan pada media sosial, forum seminar, forum pelatihan, diskusi buku dan menbangun komunitas. Sedangkan cara mengirim naskah  biasanya naskah harus sudah jadi, diprint dan dikirim baik hard copy maupun soft copy dalam bentuk CD atau  Flash Disk.

Tinggalkan Komentar


JUMLAH PENGUNJUNG WEB

  • 1
  • 13
  • 2.013
  • 12.091
  • 619.299
  • 107.318
Close Ads X
Jelajahi

.

.

.

.