Guru Penggerak, Pemimpin Pembelajaran yang Berpihak pada Murid

Guru Penggerak, Pemimpin Pembelajaran yang Berpihak pada Murid (fatmawatismanis.blogspot.com)

September 30, 2021

Fatmawati (SMA N 1 Sumberejo)

Pada bulan Juli 2020 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan Episode Ke-5 Merdeka Belajar yaitu Guru Penggerak. Program Pendidikan Guru penggerak merupakan program pendidikan kepemimpinan bagi guru untuk menjadi pemimpin pembelajaran yang berpusat pada murid  sehingga mendorong tumbuh kembang murid secara holistik untuk menjadi pelajar Pancasila. Selain itu guru penggerak diharapkan menjadi teladan, mentor, dan pelatih bagi guru lain untuk melakukan pembelajaran yang berpusat pada murid serta menjadi agen transformasi bagi pendidikan di Indonesia. Untuk menjadi guru penggerak harus mengikuti seleksi terlebih dahulu dan bagi yang lolos seleksi harus mengikuti pelatihan Program Pendidikan Guru Penggerak berupa pelatihan daring, lokakarya, konferensi dan pendampingan selama 9 bulan, baru setelah itu dinyatakan lulus sebagai guru penggerak.

Ki Hadjar menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Tugas sebagai pendidik adalah menuntun tumbuh dan hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak untuk memperbaiki lakunya sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Murid dapat mengembangkan bakat dan minatnya secara optimal dengan bimbingan, arahan, motivasi dan dukungan dari guru dan seluruh warga sekolah.

 

Guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran harus memiliki nilai-nilai yang ada pada dirinya yaitu 1) mandiri yaitu tidak bergantung pada orang lain dalam memunculkan dan mengembangkan ide-ide yang berkaitan dengan pembelajaran dan program yang berpihak pada murid; 2) reflektif yaitu mau menerima kritik, saran dan masukkan dari orang lain untuk melakukan perbaikkan dalam pembelajaran; 3) inovatif yaitu  berusaha menggunakan kemampuan dan pemikiran yang dimilikinya serta pendukung dari luar untuk menghasilkan ide dan produk baru yang baik dan bermanfaat baik bagi dirinya dan lingkungannya, selalu mengupgrade dan mengembangkan dirinya untuk mendapatkan ilmu baru; 4) kolaboratif yaitu selalu bekerjasama  dengan berbagai pihak untuk menghasilkan ide atau gagasan dan menyelesaikan masalah secara bersama-sama untuk mencapai visi bersama; 5) berpihak pada murid yaitu semua yang dilakukan oleh guru untuk kepentingan murid dan berdampak bagi murid.

Seorang guru hendaknya dapat menerapkan pembelajaran berdifferensiasi untuk mengakomodasi kebutuhan belajar murid yang berbeda-beda sehingga murid dapat belajar sesuai dengan kesiapan belajarnya, minatnya dan profil belajar masing-masing. Seorang guru harus mampu mengelola emosinya dan mengembangkan kompetensi sosial emosional yang mendukung pembelajaran serta memotivasi dan mendorong murid untuk mencapai kompetensi social emosional yang diharapkan. Selain itu seorang guru harus mampu mengembangkan komunikasi yang memberdayakan sebagai keterampilan dasar seorang coach bagi murid dan rekan sejawatnya sehingga dapat memotivasi untuk menemukan potensi, kemampuan dan bakat yang dimilikinya serta dapat menyelesaikan masalahnya sendiri baik yang berkaitan dengan masalah pribadi maupun pembelajaran.

Sebagai pemimpin pembelajaran baik di dalam kelas maupun di lingkungan sekolah, seorang guru tentunya banyak dihadapkan dengan permasalahan yang merupakan dilemma etika sehingga menuntut guru untuk dapat mengambil keputusan yang efektif. Pengambilan keputusan yang berkaitan dengan dilemma etika dapat dilakukan berdasarkan 4 paradigma dilemma etika, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan keputusan serta bekerjasama dan berkolaborasi dengan seluruh warga sekolah.

Seorang guru mampu mengelola sumberdaya/asset yang dimiliki oleh sekolah dengan cara berpikir berbasis asset sehingga sumber daya dan asset yang dimiliki oleh sekolah dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang berdampak pada murid. Untuk mewujudkan hal itu memerlukan kemampuan untuk merencanakan, mengorganisasikan, dan melaksanakan program perbaikkan dan perubahan sekolah yang selalu dievaluasi dan dimonitoring sehingga program dapat berjalan sesuai dengan rencana dan tujuan yang akan dicapai dengan melibatkan seluruh warga sekolah termasuk orangtua dan murid sehingga semuanya dapat berperan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran yang berpihak pada murid.

Penulis berharap dengan adanya Program Guru Penggerak, semua guru dapat menjadi pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid dan mendorong well-being  ekosistem pendidikan di sekolah untuk memajukan pendidikan di Indonesia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *