IQRA’ DAN INSPIRASI

Oleh: MUCH. KHOIRI

TAHUN 1986/1987, ketika saya berjuang untuk menembus media cetak, saya masih miskin inspirasi untuk menulis. Meski membaca Jawa Pos, Surya, dan Surabaya Post pun, inspirasi kadang sulit tumbuh dan berkembang menjadi ide tulisan yang layak. Ditambah tugas kuliah S1, kepala saya kerap cenut-cenut, gara-gara target saya untuk menulis 20 artikel per bulan harus terpenuhi. Belum lagi jika mesin tik kehabisan pita, sungguh merana. Tidak menulis, kesehatan dompet bisa terganggu.

Tak jarang, saya naik bis kota (saat itu Rp 100 di Surabaya), dari terminal satu ke terminal lain. Kadang, malah naik bis antar-kota, ke Kediri, Malang, Madiun, dan sebagainya. Saya juga ke terminal bis, pelabuhan, stasiun kereta api, pasar Wonokromo, rumah sakit, pasar loak, dan sebagainya. Saat itu, belum ada wisata mal seperti sekarang. Sering pula saya hanya duduk-duduk di sana, kadang menghabiskan beberapa batang rokok (*saat itu saya perokok dan pecinta kopi hitam).

Untuk apakah semua itu? Saat itu saya menduga, saya sedang mencari dan berburu inspirasi. Saya duga, di tempat-tempat itulah inspirasi bisa saya tangkap. Harapannya, setelah itu, saya langsung bisa menulis, dan mengirimkannya ke media cetak. Ingin rasanya tulisan dimuat, dan wesel pun datang ke rumah kos saya. Maklum, saat itu, saya menulis untuk menambah penghasilan.

Beberapa tahun kemudian, barulah saya sadari bahwa apa yang telah saya lakukan itu sejatinya tidak berburu inspirasi. Saat itu saya sedang memperbanyak iqra (membaca dalam arti luas) dan menemukan momentum yang menjadi pemicu ( _trigger) bagi lahirnya suatu inspirasi. Saya sedang menjalani “ritual mental” untuk memadukan hasil pembacaan dan pemicu bagi inspirasi.

Mengapa saya berkesulitan membangkitkan inspirasi saat itu? Saya sadari, itu bukan karena saya kurang keliling ke tempat-tempat tertentu, melainkan saya belum banyak bekal pengetahuan yang saya peroleh dari kegiatan kebiasaan iqra’. Saya kurang membaca buku, koran, majalah, dan membaca manusia dan kehidupan. Saat itu saya belum memenuhi syarat utama jadi penulis: Saya belum rakus membaca, belum gila memburu informasi sebanyak-banyaknya.

Lain kata, inspirasi itu lahirnya berbanding lurus dengan bekal pengetahuan yang saya miliki, yang saya peroleh dari iqra yang terbiasakan. Saya sadari kemudian, ketika saya banyak iqra’, saya tidak berkesulitan dalam menangkap inspirasi dan menindaklanjutinya menjadi tulisan fiksi atau nonfiksi. Maka, dalam buku Rahasia Top Menulis (2014) saya membuat rumus inspirasi begini: Inspiration is prior knowledge plus a trigger. (Inspirasi itu bekal pengetahuan plus sebuah pemicu.)

Jadi, ketika peserta pelatihan menulis, di berbagai momentum, bertanya bagaimana saya bisa menulis setiap hari, dan dari mana saja saya memperoleh inspirasi–maka, saya suka menjawabnya dengan mengilustrasikan pengalaman saya di atas. Maksud saya, agar mereka juga mengalaminya sendiri, agar mereka tahu bahwa saya tidak omdo (omong doang). Bukankah apa yang dialami akan lebih kuat memberikan kesan dan kesadaran?

Jadi, untuk menangkap inspirasi menulis, tidak ada pilihan lain kecuali iqra’ (atas nama Tuhanmu) sebanyak-banyaknya, setiap waktu, untuk menumpuk prior knowledge. Jika perlu jalan-jalan, itu hanya untuk kondisioning dan menemukan pemicu hadirnya inspirasi. Jika kondisi ini tercapai, bukan kita yang mencari inspirasi, namun inspirasilah yang berbondong-bondong merubung kita untuk minta dituangkan menjadi tulisan. Nah, pada titik inilah kita bisa menyeleksi mana yang perlu diprioritaskan terlebih dahulu.[]

*Much. Khoiri adalah penggerak literasi, editor, dan penulis 42 buku dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa)

1 thought on “Iqra dan Inspirasi

  1. Masih ingat mengetik pakai mesin tik brother dan ketika rusak saya harus memperbaikinya melewati sungai ciliwung yg masih banyak buayanya. Tukang service mesin ketik langganan rumahnya ada di sana.

    Senang kalau tulisan dimuat dan kita dapat honor menulis. Pacar saya adalah orang pertama yang saya ajak traktir. Tapi sayang belum jodoh. Dia menikah duluan karena saya masih belum lulus dan suaminya sudah bekerja di perusahaan bonafid.

    Saya sedih dan membuat saya jadi lebih banyak menulis. Ternyata menulis di kala sedih dan menderita itu nikmat sekali. Uang mengalir ke rekening dan bisa bayar uang kost Rp. 80.000 sebulan. Alhamdulillah tulisan mr Emcho membuat saya mengenang kembali perjalanan menjadi penulis semenjak mahasiswa. Hehehe

Comments are closed.