Kiat Praktis Menulis Modul Berbasis Riset

GURU PENGGERAK INDONESIA - 16 November 2020
Kiat Praktis Menulis Modul Berbasis Riset
  
|
Editor

Kata Pengantar Guru Blogger Indonesia

untuk Buku Kiat Praktis Menulis Modul Berbasis Riset

Omjay ucapkan selamat kepada ibu Noralia Purwa Yunita yang sudah menyelesaikan buku yang bagus ini. Judulnya Kiat Praktis Menulis Modul Berbasis Riset.

 

Ada banyak cara yang dapat digunakan bagi seorang guru dalam menyampaikan materi pelajaran sains agar siswa merasa senang dalam proses belajar.

 

Peran utama guru sebagai perencana sekaligus pelaksana proses belajar mengajar menuntut guru untuk selalu meningkatkan kualitas pengajarannya agar siswa dapat menguasai materi dengan baik.

 

Kegiatan itu adalah dengan menerapkan strategi, metode, teknik pembelajaran dan media pembelajaran yang tepat.

 

Penggunaan strategi, metode, teknik pembelajaran dan media pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran sains akan membantu dalam proses pembelajaran baik pembelajaran yang bersifat pemahaman konsep, hafalan, pengamatan percobaan maupun hitungan sains.

 

Akan tetapi, pemilihan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi, sumber belajar, kebutuhan dan karakteristik siswa dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan.

 

Pembelajaran berbasis riset (PBR) merupakan salah satu metode student-centered learning (SCL) yang mengintegrasikan riset di dalam proses pembelajaran.

 

Pembelajaran berbasis riset bersifat multifaset yang mengacu kepada berbagai macam metode pembelajaran.

 

Pembelajaran berbasis riset memberi peluang/kesempatan kepada siswa untuk mencari informasi, menyusun hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data, dan membuat kesimpulan atas data yang sudah tersusun; dalam aktivitas ini berlaku pembelajaran dengan pendekatan “learning by doing”.

 

Baca Liannya  Kehadiranmu Dinantikan di Kelas.

Pembelajaran Berbasis Riset bertujuan untuk menciptakan proses pembelajaran yang mengarah pada aktifitas analisis, sintesis, dan evaluasi serta meningkatkan kemampuan siswa dan guru dalam hal asimilasi dan aplikasi pengetahuan.

 

Dengan PBR maka siswa dapat memperoleh berbagai manfaat dalam konteks pengembangan metakognisi dan pencapaian kompetensi yang dapat dipetik selama menjalani proses pembelajaran.

 

Pembelajaran berbasis riset (PBR) merupakan metode pembelajaran yang menggunakan authentic learning (harus ada contoh nyata), problemsolving (menjawab kasus dan konstektual), cooperative learning (bersama), contextual (hands on & minds on), dan inquiry discovery approach (menemukan sesuatu) yang didasarkan pada filosofi konstruktivisme (yaitu pengembangan diri siswa yang berkesinambungan dan berkelanjutan).

 

Model pengembangan modul praktikum berbasis riset memodifikasi model pengembangan sistem instruksional Thiagarajan, Semmel dan Semmel (model pengembangan 4-D). Model pengembangan 4-D terdiri atas 4 tahap yaitu: (1) Define (Pembatasan), (2) Design (Perancangan), (3) Develop (Pengembangan) dan Disseminate (Penyebaran).

 

Proses perancangan modul praktikum berbasis riset diikuti dengan proses validasi untuk menentukan baik tidaknya modul jika diterapkan dalam pembelajaran konsep redoks.

 

Hasil validasi memperoleh kriteria valid pada modul praktikum dengan revisi kecil pada beberapa komponen modul yaitu (1) komponen kelayakan isi yaitu soal pada tes formatif belum mengajak siswa berpikir kritis menghubungkan hasil penelitian dengan pengetahuan ilmiah; (2) komponen penyajian dimana terdapat kekurangan dalam kelengkapan penyajian yaitu pemberian daftar pustaka, kata pengantar dan lembar kerja siswa; (3) komponen kegrafisan dimana terdapat perbaikan pada lay out dan desain cover serta (4) komponen kebahasaan yaitu kekurangan dalam aspek keterpahaman dan kemudahan siswa membaca isi modul.

Baca Liannya  Kala Prof Ekoji Bercerita Lewat WAG

 

Hasil validasi ini telah memenuhi kriteria BSNP (2007) bahwa untuk mendapatkan sebuah modul praktikum yang layak digunakan pada proses pembelajaran, maka penilaian modul praktikum harus memenuhi kriteria baik pada empat komponen yaitu komponen kelayakan isi, kebahasaan, penyajian dan kegrafikan.

 

Seringnya pemberian tugas-tugas pada siswa ternyata membuat siswa merasa jenuh dengan tugas yang diberikan. Hal ini dikarenakan siswa juga memiliki tugas dari mata pelajaran lain yang harus diselesaikannya pada jangka waktu yang telah ditentukan.

 

Hal ini dapat diatasi dengan pemberian tugas secara berkelompok dan bergilir sehingga siswa tidak akan merasa berat dengan tugas yang diberikan dan tugas akan terselesaikan lebih optimal.

 

Demikianlah sedikit kata pengantar dari buku yang bagus ini, semoga dapat memacu dan memicu semangat para guru untuk maju dan memberikan pelayanan pembelajaran yang lebih berkualitas.

 

 

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

Guru Blogger Indonesia.

Blog http://wijayalabs.com

Tinggalkan Komentar


JUMLAH PENGUNJUNG WEB

  • 0
  • 22
  • 2.022
  • 12.100
  • 619.308
  • 107.323
Close Ads X
Jelajahi

.

.

.

.