Kisah Di Balik Tirai Bambu

GURU PENGGERAK INDONESIA - 2 Oktober 2020
Kisah Di Balik Tirai Bambu
Ya’ Dedi Suhandi, S.Pd., M.Pd.  
|
Editor

Kisah di Balik Tirai Bambu

Oleh: Ya’ Dedi Suhandi, S.Pd., M.Pd.

Guru SD Negeri 11 Pontianak Timur Kalimantan Barat

Ya’ Dedi Suhandi, S.Pd., M.Pd.

Bergelut dengan kerikil tajam

Menapaki jalan-jalan berliku

Kuharapkan angan yang tak mungkin

Tapi …

Allah Maha Berkehendak

Hal yang fatamorgana

Menjadi kenyataan

Kulewati beberapa negara

Dengan izin-Nya

Malaysia, Arab Saudi, Hongkong, dan Cina

Menjadi kisah tak terlupakan

Dalam sejarah hidupku

 

Berkah yang dihasilkan dari lomba guru berprestasi sudah keterima. Berangkat umrah gratis telah kuperoleh dan kulaksanakan ibadah tanpa ada aral yang melintang. Pascaumrah, masih terbayang dipikiranku tentang keagungan Kota Madinah dan Mekkah. Rasanya ingin kembali ke sana lagi. Tujuan utamaku sudah tercapai.

Sejak kepulanganku dari Tanah Suci, banyak hal yang dapat kuceritakan. Paling tidak berbagi pengalaman. Aku berbagi cerita bagaimana keadaan dan pelaksanaan ibadah di sana. Ada beberapa teman juga bertanya tentang persiapan yang dipersiapkan ketika umrah. Mungkin teman tersebut juga mau melaksanakan umrah.

Pascaumrah tersebut, aku pun kembali melaksanakan aktivitas seperti biasanya. Rutinitas mengajar dan membina siswa dalam rangka persiapan ujian sekolah aku emban kembali. Tugasku selaku tim reviewer ujian sekolah khususnya bidang studi Bahasa Indonesia juga aku lakukan dengan baik pada Maret 2018. Setelah pelaksanaan ujian, Dinas Pendidikan Kota Pontianak melalui K3S mengamanahkanku sebagai tim korektor. Kemudian, aku juga diberi kepercayaan oleh Dinas Pendidikan Kota Pontianak untuk menjadi narasumber pada kegiatan KKG.

Awal 2019, aku juga diberi kepercayaan untuk menjadi narasumber bagi anggota TNI sebanyak 100 orang yang diperbantukan mengajar di daerah perbatasan. Materi yang kusampaikan tentunya langsung ke metode, teknik, dan taktik mengajar. Bagaimana memotivasi dan memberikan stimulus kepada peserta didik. Alhamdulillah, anggota TNI menerima materi tersebut dengan semangat dan antusias. Senang rasanya bisa berbagi dengan anggota TNI. Hal tersebut, juga tak pernah aku bayangkan.

Di sela-sela memberikan materi pembekalan tersebut, aku mendapat telepon dari pegawai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pihak kementerian tersebut menanyakan identitasku. Apakah masih statusnya masih sebagai guru atau sudah menjadi kepala sekolah. Aku juga bertanya-tanya, mengapa mereka mempertanyakan itu. Tentunya ada sesuatu, tapi pegawai tersebut menjelaskan untuk validasi data. Yah, aku anggap biasa-biasa saja. Selang beberapa hari pegawai tersebut kembali meneleponku. Kali ini, dengan informasi yang mengejutkan. Apakah informasinya itu teman-teman? Ia menanyakan apakah Bapak sudah punya paspor?

Langsung saja aku jawab dengan lugas, “Punya, Mbak.”

“Memangnya ada apa, Mbak?” tanyaku dengan penuh penasaran.

“Begini, Pak, Bapak terpilih dari sekian guru untuk pelatihan ke luar negeri,” jelasnya dengan nada perlahan.

Aku seakan tak percaya. Mana mungkin berangkat ke luar negeri, sementara penguasaan bahasa asingku sangat minim.

“Benar, Pak. Saya tunggu jawaban, Bapak. Apakah Bapak sanggup mengikuti kegiatan diklat tersebut dalam waktu selama tiga minggu?” pungkas pegawai tersebut.

Aku masih berpikir panjang. Terutama, aku akan meninggalkan anak dan istri. Apakah bisa, ya? Kebetulan, waktu itu istri tercinta berada di dekatku. Aku pun langsung menanyakan hal tersebut.

“Bunda, bagaimana, nih, apakah Bunda setuju kalau Ayah pelatihan ke luar negeri selama tiga minggu?” tanyaku kepada sang istri.

“Wah, lama juga, ya!” cetus istriku.

“Tapi, ini kesempatan yang langka, Bunda,” kilahku.

“Sudahlah, Bunda ikhlas,” istriku berucap dengan nada rendah.

Betapa tidak teman-teman dan pembaca budiman, serangkaian keberkahan sudah kuterima. Mulai dari umrah gratis, narasumber KKG, narasumber pendampingan anggota TNI, dan sekarang diklat ke luar negeri. Nikmat yang mana yang kan engkau dustakan. Sungguh keberkahan yang tak terhingga. Aku tak menyangka terpilih mengikuti diklat ke luar negeri. Tapi, masih belum tahu ke negara mana. Karena pada tahun 2018, teman yang meraih peringkat 1 s.d. 7 sudah berangkat ke negera Belanda. Sedangkan aku tak punya kesempatan lagi untuk ke luar negeri karena tidak berada di peringkat sepuluh besar nasional tahunn 2017. Tapi, kalau sudah rezeki tak akan ke mana.

Berita tersebut masih aku rahasiakan. Sampai akhirnya aku diberi kabar oleh teman melalui whatsapp dan facebook.

Informasinya kurang lebih berbunyi, “Selamat Pak Ya’ Dedi, terpilih mengikuti diklat ke negeri Cina.”

“Oh, terima kasih, informasinya, Bu!” ungkapku.

Ternyata surat keputusan tentang guru-guru yang akan diklat ke luar negeri sudah beredar di media sosial. Hal tersebut sudah menyebar seantero nusantara. Aku pun rasanya berat untuk memberi kabar ini kepada kepala sekolah. Masalahnya, tak lama lagi anak-anak akan menghadapi ujian. Untunglah beliau mengerti dan memberi restu sehingga tak menjadi beban dalam pikiranku.

Persiapan keberangkatan sudah kumulai. Berkas yang harus kukirim ke Jakarta untuk pengurusan visa segera kusiapkan. Syukurlah pasporku masih baru karena dibuat ketika pergi umrah. Setelah semuanya siap, aku mengirimkan data via whatsapp dan berkas lainnya via JNE. Alhamdulillah, esok harinya sudah sampai ke Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Baca Liannya  Merdeka Belajar

Tak berapa lama, sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, kami pun diberangkat ke Jakarta untuk mengikuti pembekalan selama empat hari, yaitu mulai 27 Februari s.d. 2 Februari 2019. Tempat kegiatan di MARCH Hotel Passer Baroe, Jakarta.

Selama empat hari kami di karantina di MARC Hotel Passer Baroe, Jakarta. Mulai 27 Februari s.d. 2 Maret 2019, kami diberikan pembekalan untuk persiapan belajar ke luar negeri. Program ini difasilitasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebanyak 100 orang guru diikutsertakan di hotel ini. Rinciannya, sebanyak 50 orang berangkat ke China, 25 Orang ke Belanda, dan 25 orang ke Australia. Total yang akan berangkat tahun ini ada 1200 orang guru ke 12 negara.

Setelah empat hari berada di hotel, kami diberangkatkan dengan bus menuju Bandara Soekarno Hatta. Pukul 03.00 WIB kami sudah harus berada di bus besar dan berangkat ke terminal 2. Di sana sudah menunggu Travel Inti Sahabat. Tiket dan paspor serta visa kami sudah disiapkan di sana. Pada waktu yang sudah ditentukan kami pun naik pesawat chatay pacific menuju Hongkong. Sesampainya dii Hongkong, kami beristirahat sejenak untuk beribadah sambil menunggu keberangkatan menuju Bandara Nanjing China. Ketika kami mau beribadah, sangat sulit untuk menemukan musallah. Setelah berkeliling dan berkomunikasi dengan petugas bandara, kami pun menemukan tempat beribadah tak jauh dari tempat istirahat. Kami pun bergantian melaksanakan salat.

Tak lama kemudian, kami kembali naik ke pesawat menuju Bandara Nanjing China. Sesampai di bandara, kami diarahkan untuk masuk imigrasi. Alhamdulilllah, tak ada masalah berarti. Kami pun langsung ke luar bandara. Sampai di luar bandara, kami sudah disambut panitia CUMT. Ada 2 orang panitia yang menyambut kedatangan kami. Kami diajak menuju parkir bus. Ada 1 bus besar yang siap mengantarkan kami ke tempat penginapan. Berhubung sudah malam, train (kereta cepat) sudah tidak beroperasi. Jadi, kami menginap semalam di Nanjing. Ketika sampai di penginapan, terpampang tulisan Hotel Ibis.

Pikirku, “Wah, ini juga ada di Pontianak!”

“Berarti Hotel Ibis ini pemiliknya dari China,” aku menyimpulkan.

Keesokan harinya, kami dibawa ke stasiun kereta. Ini pengalaman yang mengasyikkan, bisa menaiki kereta cepat. Selama kurang lebih dua jam kami pun sampai ke tempat tujuan. Sangat cepat, jika menggunakan bus, bisa menempuh dalam waktu 6 jam lebih. Kami merupakan rombongan kedua. Rombongan pertama sudah sampai duluan. Rombongan pertama tidak menggunakan kereta cepat, tapi bus. Ini diluar perencanaan. Seharusnya mereka yang naik kereta cepat, rombongan kami naik bus. Ternyata, yang terjadi malah sebaliknya. Manusia boleh berencana, tetapi Allah lah yang akan menentukan segalanya. Ingat itu, ya, teman-teman!

Setelah sampai di stasiun, kami berangkat menuju Kota Xuzhou dengan bus dengan menempuh waktu kira-kira 1 jam. Setibanya di tempat penginapan di universitas CUMT, kami langsung registrasi. Pendamping kami dari kementerian membagi beberapa kelompok untuk pemerataan kamar. Setelah diatur, aku sekamar dengan Pak Hery Azhar. Beliau adalah pendamping kami dari kementerian. Alhamdulillah, bisa sekamar dengan perwakilan dari kementerian. Jadi, banyak informasi yang aku peroleh selama di Cina. Kemudian, kami pun memasuki kamar masing-masing untuk beristiahat. Karena sudah menempuh perjalanan yang melelahkan. Waktu pun saat kami tiba, sudah malam.

Kegiatan hari pertama kami berada di kampus CUMT adalah Opening Ceremony of Training Program in China for Excellent Teachers and Principals of MOEC Republic of China at Jiangsu Vocational Institute of Architectural Technology. Narasumber di antaranya The President of China University of Mining and Technology, The President of Jiangsu University of Technology, Dr. Praptono, M.Pd., and Professors from CUMT and JUT

Banyak informasi yang disampaikan melalui bahasa Mandarin. Syukurlah ada penerjamah bahasa Indonesianya. Materinya membahas tentang keberadaan Kota Xuzhou. Xuzhou merupakan kota budaya terkenal yang menghargai kenyamanan dan kecepatan kerja sehingga tercipta peradaban yang baik.

Pada hari kedua dan seterusnya kami mengikuti beragam kegiatan.  Kegiatan tersebut adalah di antaranya belajar bahasa Mandarin, sejarah Kampus CUMT, menulis huruf Cina, kunjungan ke Mining Science Center, kunjungan ke Xuzhou Wangjie Primary School. Nah, pada saat berkunjung ke sekolah ini, kami mendapat hal yang aneh. Mengapa? Karena di sekolah tersebut guru tidak menggunakan kursi. Di kelas terdapat papan digital. Siswanya sangat aktif. Guru hanya sebagai fasilitator saja.

Kegiatan berikutnya mengunjungi Largerstroemia Academy of Classical Learning the Teacher. Di tempat ini, kami diajarkan bagaimana memberikan penghormatan dan salam dengan membungkukkan badan dan meletakkan tangan di depan badan. Memegang gelas dengan posisi tangan kanan memegang gelas sedangkan tangan kiri berada di depan tangan kanan. Kemudian kami diajarkan juga membuat boneka panda.

Setelah lelah mengikuti beragam kegiatan, kami diajak jalan-jalan. Jalan-jalannya ke mana, ya? Kami diajak untuk melakukan ziarah ke Kuil Confucius dan Pemakaman Confucius Beserta Mansion Keluarga Kong. Kuil Confucius di Kota Qufu ini merupakan kuil Confucius yang terbesar dan paling terkenal di daerah Asia Timur. Sejak tahun 1994, Kuil Confucius ini telah menjadi bagian dari Tempat bersejarah dunia UNESCO. Tempat bersejarah dunia lainnya adalah Mansion Keluarga Kong dan Pemakaman Confucius yang letaknya berdekatan dengan Kuil Confucius.

Baca Liannya  Mengais Mutiara di Negeri Panda

Kunjungan kali ini yang sangat menarik. Kami berkunjung ke Xuzhou Technological Innovation and Exploring Xuzhou Historical and Cultur Street. Di tempat ini kami dipertontonkan aksi dari robot-robot produksi mereka. Dari perusahaan ini berdiri hingga sekarang telah memiliki 16 hak paten, di antaranya program untuk memberikan instruksi robot, robot edukasi, dll. Bahan-bahan untuk robotik mereka ciptakan menggunakan printer 3 dimensi yang mereka miliki sendiri. Produk-produk yang dimiliki oleh perusahaan ini dapat digunakan dalam proses pembelajaran tentang pemrograman dasar dan robotik di sekolah-sekolah.

Lanjut lagi, ya, Teman-teman. Hari ini yang kami nantikan, yaitu Sabtu dan Minggu. Kami memanfaatkan hari ini untuk shopping. Kami memburu apa saja yang bisa dibeli. Misalnya, jaket, ikat pinggang, celana, baju, tas, suvenir, sepatu, makanan, hp, dan lain-lain. Harganya sangat spektakuler. Murah sekali karena barang-barang tersebut memang berasal dari Cina (made in Cina). Barang yang kubeli tentunya buat oleh-oleh keluarga dan teman-teman. Ada yang lucu dalam kami bertransaksi. Menyatukan dua orang yang memiliki bahasa berbeda. Si penjual tak bisa bahasa Inggris dan Indonesia, aku tak bisa bahasa Mandarin. Tapi, manusia diberi Allah pikiran untuk menggunakan media komunikasi yang lain. Ap aitu, Teman-teman? Aku dan teman-teman menggunakan bahasa isyarat, kalkulator, dan aplikasi di hp. Alhamdulillah, komunikasi berjalan dengan baik. Kami pun mendapatkan barang-barang yang diinginkan dengan mudah.

Setelah dua hari istirahat dan menulis jurnal, kami diajak oleh pendamping dari CUMT untuk berkunjung ke King Chu’s Mausoleum. Apa yang ada di sana, ya? Pertama, Guishan Han Tomb merupakan makam Raja Chu generasi ke-6 dari Dinasty Han. Makam ini dahulunya adalah istana yang dibangun di bawah tanah. Terdapat dua jalan utama, dua gang, 15 ruangan, dan pintu-pintu antarruangan. Kedua, Xuzhou Imperial Edicts Museum merupakan museum kekaisaran Cina yang dikelola oleh pihak swasta. Barang-barang koleksinya lebih dari 30.000 jenis, di antaranya singgasana kaisar yang terbuat dari kayu mahoni yang dilapisi emas dan ukiran naga. Saat sekarang, singgasan tersebut dimanfaatkan oleh pengelola untuk dijadikan lahan bisnis. Bagi yang ingin berfoto akan dikenakan beragam biaya. Jika berfoto tidak menggunakan pakaian yang sudah disediakan biayanya 5 Yuan. Berfoto menggunakan pakaian istana baiayanya 15 Yuan. Berfoto menggunakan pakaian istana dan langsung dicetak dengan menggunakan kamera pengelola biayanya 25 Yuan.

Lelah juga mengitari museum. Ternyata, pendamping dari CUMT memahami kelelahan kami. Makanya, mereka membawa kami untuk melepas lelah ke Danau Pan’an. Danau Pan’an merupakan danau buatan yang dibangun di area bekas penambangan batubara. Danau Pan’an dijadikan restorasi ekologi pertama di negara Cina. Terletak di barat daya Distrik Jiawang. Luas total area Danau Pan’an 110.000 km2 dan luas perairan 92.100 km2. Pohon yang ditanam berjumlah 160.000 dengan luas area bunga dan tanaman adalah 1.000.000 m2. Tanaman air seluas 980.000 m2. Danau Pan’an memiliki kedalaman rata-rata 3–4 m dengan bagian terdalam 7 m. Danau Pan’an memiliki keanekaragaman spesies, di antaranya lebih dari 200 jenis burung, 300 jenis tanaman, 30 jenis hewan, dan 40 jenis ikan.

Sungguh indah Danau Pan’an. Kami menikmati pemandangan di sana. Setelah menikmati tempat wisata, kembali kami diajak untuk berkunjung ke the Affiliated Middle School to CUMT and Xuzhou Xinyuan Middle School. Sekolah menengah yang berafiliasi dengan CUMT ini memiliki filosofi pendidikan yakni untuk menstimulasi minat, menanamkan kebiasaan, dan membentuk karakter para peserta didik. Sekilas pembelajaran di sekolah ini. Pertama, pada saat yang sama, para guru dari sekolah lain yang mengajar secara serempak dapat mengawasi kelas anak-anak dan menjawab pertanyaan dalam kelompok. Banyak guru bekerja sama satu sama lain. Guru yang unggul bertanggung jawab untuk menyediakan konten kurikulum berkualitas tinggi. Konselor memperhatikan pembelajaran di kelas anak-anak dan menyelesaikan keraguan, mengurangi tekanan di kelas tradisional, meningkatkan rasa partisipasi anak dan kemauan untuk belajar secara aktif, sehingga model pendidikan berbasis informasi dengan partisipasi tinggi dan kualitas pengajaran yang tinggi dapat sepenuhnya terwujud. Kedua, dalam praktik mengajar kali ini para peserta didik mempelajari tentang Reaksi Kimia dengan metode PBL yang disajikan oleh guru. Para peserta didik dibagi menjadi 6 kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 7 anggota dan terbagi ke dalam 3 kelas yang masing-masing kelas terhubung oleh kamera yang ditampilkan di layar. Proses belajar mengajar yang berlangsung berbasis STEM dengan sang guru menampilkan materi di layar dan juga memberikan masalah dengan mempraktikan secara langsung di depan para peserta didik.

Baca Liannya  Pengalaman Mengikuti Program Pelatihan Guru di China

Akhirnya, selesai juga kegiatan belajar dan berwisata di Xuzhou. Kami bersiap untuk mengikuti kegiatan Closing Ceremony. Kegiatan dimulai dengan pembukaan acara oleh Mr. Hu Wang sebagai program overseer. Sambutan perpisahan, ucapan terima kasih, dan permohonan maaf dari masing-masing perwakilan. Ibu Endang Setiawati dari pejabat Kemendibud RI dan Mr. Yue Ping Fang sebagai Director of Education Training Center of China University of Mining and Technology. Tukar cinderamata. Penampilan dari masing-masing kelompok dan dilanjutkan foto bersama. Kami juga diberikan sertifikat dari CUMT. Lumayan, 120 JP, bisa untuk naik pangkat dengan nilai kredit dua untuk pengembangan diri (PKB).

 

 

 

 

 

Kegiatan yang diselenggarakan CUMT sudah finish. Apalagi yang bisa diperbuat, ya? Memang ada dua pilihan yang ditawarkan oleh pendamping dari kementerian untuk mengisi kekosongan waktu. Pilihan pertama melanjutkan shopping dan menyelesaikan jurnal. Pilihan kedua berwisata ke Tembok Besar Cina (Great Will).

Hanya saja pilihan kedua ini cukup menguras kantong. Kita harus menyiapkan dana sebesar tiga jutaan. Aku pun berdiskusi dengan teman-teman yang berasal dari Kalbar. Jawaban mereka sama dengan pikiranku. Kapan lagi mau  ke Cindan ke Tembok Besar Cina. Kalau uang tiga jutaan bisa kita peroleh setiap bulannya.  Ini kesempatan yang langka. Akhirnya, aku pun ikut rombongan sekira 25 orang pergi ke Great Wall. Rute yang kami tempuh menggunakan bus menuju ke stasiun kereta cepat (train), ke Beijing dengan train, menuju Tembok Cina dengan bus. Selanjutnya kami mengunjungi Kedutaan Besar RI di Beijing. Kami diterima oleh Pak Yaya. Kami melakukan komunikasi terkait informasi tentang pendidikan di Cina. Kemudian, rombongan kami melanjutkan kunjungan ke Forbidden City. Di Forbidden City kami diberikan penjelasan terkait sejarahnya oleh pendamping dari kedutaan.

Alhamdulillah, perjalanan kami di Beijing sangat berkesan. Perjalanan ditutup dengan singgah ke pusat perbelanjaan. Banyak yang kami beli, di antaranya sumpit untuk makan mi, magnet hiasan kulkas, tas, pakaian, dan lain-lain. Di tempat ini harus pandai menawar. Harga yang ditawarkan berlipat-lipat. Bayangkan kan saja, harga suvenir yang kami beli di Xuzhou hanya 40 Yuan, di tempat tersebut 500 Yuan. Harganya gila-gilaan. Setelah lelah berbelanja, kami pun bersiap pulang ke tempat penginapan di Kampus CUMT.

Tanggal 24 Maret 2019 kami keluar dari kampus China University of Mining and Technology (CUMT).

Malam harinya, masih 23 Maret, walaupun sudah letih karena baru pulang dari Beijing, aku tetap harus semangat untuk berkemas. Jangan sampai ada yang tertinggal. Apalagi banyak juga cinderamata yang kubeli. Kalau sampai ketinggalan, bakalan gawat. He… apanya yang gawat! Pergi membawa sebuah koper. Ternyata, sewaktu pulang, kopernya beranak pula. Aku membeli koper karena harganya cukup murah. Aku juga tak mau kalah, seperti ibu-ibu yang pandai menawar. Harga koper yang kubeli 100 Yuan (Rp200.000,00). Ada beberapa teman juga yang mengikuti jejakku membeli koper tersebut. Setelah dikira lengkap dan tak ada lagi yang harus dikemas aku pun beristirahat untuk menjaga fisik agar tetap prima.

Keesokan hari, 24 Maret 2019, kami meninggalkan kampus. Kampus ini tinggal kenangan. Sudah 21 hari lamanya kami bersama. Membagi suka dan duka bersama. Dengan langkah yang mantap, kami menuju ke stasiun kereta dengan menggunakan bus kampus. Tak berapa lama, kami sudah sampai di Bandara Nanjing. Kemudian transit sebentar di Hongkong. Akhirnya, kami pun sudah berada di pesawat untuk kembali ke tanah air tercinta.

***

Sepulangnya dari diklat di negeri Tirai Bambu. Aku pun harus membuat laporan. Untung jurnal individu sudah kebuat dengan lengkap dan rapi. Hanya tinggal menambahkan dokumen surat dan foto-foto kegiatan. Setelah laporan siap, akupun menyerahkan laporan ke Kepala Dinas Pendidikan, Kasi Pendidik, dan Kasubag Kepegawaian. Ketika melaporkan ke Kasi Pendidik, laporan dianggap biasa-biasa saja.

Kata Beliau, “Coba laporan ini Pak Ya’ Dedi buat menjadi sebuah buku.”

Aku pun termotivasi untuk membuat sebuah karya. Alhamdulillah, berkat izin Allah, aku bisa menelorkan sebuah karya buku yang berjudul “Gupres Membawa Berkah”. Buku itu pun sudah diedarkan ke teman-teman terdekat dan pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak. Karya tersebut rupanya membawa hikmah juga. Karya tersebut dinilai bagus sehingga aku terpilih untuk menjadi mentor Wisata Literasi Guru. Aku punya kesempatan untuk berbagi kepada guru-guru lain dalam hal menulis buku. Kemudian, di sela-sela kegiatan tersebut, aku juga dapat membuat sebuah karya lagi dengan judul buku “Pembealajaran Drama AKSI”.

Ayo, Teman-teman, berkarya dan berprestasi. Banyak hal yang akan kita peroleh. Banyak hikmah dan pelajaran yang akan kita petik. Kata-kata bijak mengatakan “Semakin banyak ilmu dan wawasan yang dimiliki, maka kita tak akan menyalahkan orang lain”.

“Guru Mulia karena Karya”

Tinggalkan Komentar


Terpopuler

JUMLAH PENGUNJUNG WEB

  • 0
  • 1
  • 2.070
  • 10.109
  • 632.338
  • 112.376
Close Ads X
Jelajahi

.

.

.

.