Kota Tua Jakarta

GURU PENGGERAK INDONESIA - 23 Agustus 2020
Kota Tua Jakarta
Kota Tua Jakarta  
Penulis
|
Editor

Liburan tahun lalu berkesempatan jalan-jalan bersama keluarga. Berlibur sambil memperkenalkan anak kepada lingkungan dan budaya. Mengunjungi Kota Tua Jakarta, sebagai salah satu museum yang menandai geliat kota Batavia saat itu, jamanya.
Kota Tua Jakarta di masa lalu menjadi simbol kejayaan bagi siapa saja yang mampu menguasainya. Tak heran jika mulai dari Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sunda – Pajajaran, Kesultanan Banten – Jayakarta, Verenigde Oost – indische Compagnie (VOC), Pemerintah Jepang, hingga kini Republik Indonesia melalui Pemerintah DKI Jakarta, terus berupaya mempertahankannya menjadi kota nomor satu di negara ini. Dahulu pada abad ke-16 wilayah ini dijuluki “Permata Asia” dan “Ratu dari Timur” oleh pelayar Eropa, Jakarta Lama dianggap sebagai pusat perdagangan untuk Benua Asia karena lokasinya yang strategis dan sumber daya melimpah.
Kawasan Kota Tua menyimpan nilai sejarah tinggi, berbagai peninggalan masa lampau masih dapat dijumpai di kawasan Kota Tua ini. Di Kawasan Kota Tua terdapat juga beberapa tempat wisata yang dapat dikunjungi, seperti Museum Fatahillah, Pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Bank Indonesia dan Museum Bank Mandiri, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik dan Toko Merah. Selain untuk tempat wisata, kawasan Kota Tua juga sering dijadikan tempat foto, dikarenakan kawasan yang masih belum banyak berubah, seperti zaman penjajahan Belanda dahulu.
Di tahun 1635, Batavia meluas sampai ke tepi barat Sungai Ciliwung. Batavia dirancang dengan gaya Belanda Eropa dan diatur dalam beberapa blok yang dipisahkan oleh kanal. Batavia selesai dibangun pada tahun 1650 dan kemudian difungsikan sebagai kantor pusat VOC di Hindia Timur.
Pada era perang dunia II, saat pendudukan Jepang tahun 1942, Batavia diganti nama menjadi Jakarta dan menjadi ibu kota Indonesia sampai saat ini. Tahun 1972, Gubernur Ali Sadikin, mengeluarkan keputusan gubernur menjadikan Kota Tua sebagai situs warisan. Hal ini dilakukan untuk melindungi sejarah arsitektur di kawasan itu.

Baca Liannya  Maaf Saya Lupa Menulis

Museum Wayang
Yang menarik bagi saya adalah museum wayang. Wayang sebuah media yang berbasis masyarakat pada jamannya merupakan media yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan. Pertanyaannya adalah bagaimana mengemas kemasan wayang sehingga disukai oleh anak (dibaca generasi muda). Kita (Kalau boleh dikatakan Pak Dalang) harus mau menyelam dalam lautan pergaulan kawula muda…yang serba digital…simple..praktis…IT…
Pada museum wayang yang ada di Kota Tua Jakarta terdapat bermacam-macam jenis wayang, baik bahan bakunya (rumput, kulit, kertas dll) maupun asal daerah.Bentuk dan rupa wayang itu sendiri mengalami berbagai transformasi, menyesuaikan diri dengan dinamika zaman dan tempat dimana ia berkembang. Mulai dari wayang batu, wayang kulit, wayang golek, wayang klithik, wayang beber, hingga wayang orang dan masih banyak lagi. Antusias anak dengan bertanya bagaimana menggerakannya, bagaimana memainkannya, apakah bisa ngomong, gunanya untuk apa?
Wayang sebagai media sosialisasi saat itu (pada jamannya) sebenarnya masih sangat aktual pada jaman sekarang dalam artian bisa disukai oleh anak terutama, tinggal bagaimana mengemas wayang menjadi menarik, misalnya dengan menambahkan motor/ listrik untuk menggerakanya, semacam remote control, walaupun cuma tangan yang bergerak2. Apalagi anak dapat berpartisipasi didalamnya.
Keluar dari pakem? saya kira tidak sebagai upaya untuk melestarikannya perlu tranformasi sesuai dengan keadaan jamannya. Pakem gamelan sebagai ciri utama harus ada, tapi dimungkinkan juga menggunakan piano,gitar dan sejenisnya. Sehingga nanti akan lahir wayang beraliran rock…atau apalah. Penyanyinya pun tidak harus duduk dengan manisnya mungkin sedikit ada gerak…terbayang ndak ya?

Tinggalkan Komentar


Terpopuler

JUMLAH PENGUNJUNG WEB

  • 0
  • 1
  • 1.957
  • 9.819
  • 632.507
  • 112.460
Close Ads X
Jelajahi

.

.

.

.