Membaca dan Menulis sebagai Dasar Pengembangan Diri

Oleh Doddi Ahmad Fauji *

Saya berbicara di hadapan para guru SMP, yang posisinya menjadi tim pendidik siswa sebagai generasi yang sedang bertumbuh kembang, baik raga maupun jiwanya, agar siswa berubah dan berbuah. Apa yang saya paparkan di depan, saya yakin para guru sudah mengetahuinya. Misalnya, raga manusia bertumbuh kembang karena mendapatkan asupan, dengan ditunjang oleh latihan atau penempaan diri. Juga jiwa manusia berkembang, karena menerima asupan (informasi dari indra, milsanya bacaan) serta keadaan lingkungan tempat bertumbuh yang merangsangnya untuk belajar terus-menerus. Jika asupan tidak bagus, perubahan yang terjadi pada manusia, bisa saja bukan berubah ke arah yang baik, tapi justru mengalami kemunduran. Ada manusia yang mati muda karena sakit, karena perubahannya ke arah kemunduran fisik. Ada manusia yang berkarakter tidak baik, karena menerima asupan jiwa yang tidak baik pula. Membaca tulisan yang baik, akan mendidik diri yang baik.

Saya berbicara sesuai dengan tema yang dimintakan panitia, yaitu tentang kegiatan membaca dan menulis sebagai sarana dasar untuk pengembangan diri ke arah yang lebih baik. Ya, kita harapkan kegiatan membaca dan menulis itu akan melahirkan perkembangan jiwa dan raga ke arah yang positif, sebab ada juga bacaan yang malah meracuni, yang menyebabkan seseorang tumbuh menjadi manusia dengan fisik dan karakteristik yang kurang positif atau malah negatif.

Perlu saya sampaikan, sekian ‘iklan’ makanan dan minuman yang disampaikan melalui bacaan di media massa, ternyata ada yang membahayakan tubuh dan mental manusia. Penyedap rasa misalnya, yang diiklankan melalui bacaan, ternyata membahayakan bila terus-menerus dikonsumsi, apalagi dalam jumlah yang sangat banyak. Pengawet, pewarna, dan pemanis yang dituangkan ke dalam minuman kemasan, juga banyak yang tidak bagus untuk raga manusia, yang berdampak negatif bagi jiwanya. Iklan pemutih kulit, adalah menyalahi kodrat, walau mungkin benar bisa memutihkan. Dari mana saya tahu itu? Karena saya suka mencari informasi lewat bacaan. Apakah bacaan tentang informasi makanan dan minuman itu bagian dari karya sastra? Nah ini perlu kita diskusikan pula.

Padamulanya semua karya tulis itu disebut sastra. Pada perkembangan berikutnya, sastra mengalami penyempitan makna dan pengerucutan hanya untuk tulisan fiksi (rekaan), dan itupun dipersempit lagi dengan membaginya ke dalam genre (aliran) puisi, prosa, drama. Istilah sastra berasal dari bahasa Sansakerta, yaitu sas yang artinya pendidikan dan tra yang artinya sarana. Jika mengacu pada etimologi (asal-usul kata), maka makalah yang saya bacakan ini adalah karya sastra yang berjenis esay. Skripsi, tesis, dan disertasi, harus disebut sebagai karya sastra. Dunia dipersempit oleh orang Barat yang telah membuat kategorial dan mengkotak-kotakan berbagai bidang, termasuk profesi manusia yang kian spesifik. Guru misalnya, pada saat ini, adalah orang yang mengajar di dalam kelas. Bangsa Indonesia harus kembali ke jaman begawan dan empu, yang menguasai banyak bidang kehidupan.

Perlu disinggung juga istilah literasi yang kini sedang euforia di mana-mana. Kata literasi berasal dari bahasa Latin yang artinya aksara, kemudian diadopsi oleh orang Inggris (literature), Jermah (literatur), Belanda (literatur), dan menyebar ke mana-mana, termasuk ke Indonesia. Berliterasi itu artinya melek aksara yang jenisnya banyak, dari mulai huruf, angka (numerasi), sandi, morse, marka, logo, maskot, dll., adalah aksara. Bila ada orang yang masih menerobos lampu merah di stopan, itu artinya dia belum berliterasi.

Syariat atau arti literasi ialah bisa membaca aksara, dan hakikatnya ialah bisa memahami makna yang tersurat dan tersirat di dalam aksara. Makrifat literasi adalah menjalankan apa yang dapat dipahami dari aksara, melalui tatacara, metode, atau ‘tarikat’ (jalan).

Baiklah, saya sekarang akan membicarakan sastra dalam wilayah yang sempit, yaitu karya fiksi yang dibagi ke dalam genre puisi, prosa, dan drama, sebagai sarana untuk pengembangan manusia (guru dan siswa). Pengembangan diri yang dimaksud dalam topik ini, mengacu pada aspek ‘jiwa’ dan bukan raga. Memang benar, bacaan bisa mengubah karakteristik manusia, dan itu dimulai dari mengubah pola pikir, kemudian merasuk ke dalam rasa, lalu diwujudkan dalam keyakinan, ucapan, dan perbuatan. Diyakini yén bacaan sastra yang baik, akan turut mengubah karakteristik ke arah yang baik atau budi pekerti. Bisa saja bacaan mengubah pembaca ke arah karakteritik yang tidak baik atau yang tidak berbudi pekerti. Bila disebut budi pekerti, itu pasti yang baik. Beda dengan istilah ‘karakter’ yang sifatnya netral, sehingga bisa karakter positif dan bisa karakter negatif. Istilah pendidikan karakter, sebaiknya kita ganti menjadi pendidikan budi pekerti.

Saya termasuk pembaca puisi-puisi Rendra. Puisi ‘Sajak Sebatang Lisong’ karya Rendra, menyebabkan saya merenung, dan mengalami perubahan sikap dalam memandang kesenian dan pendidikan. Di dalam dua barik terakhir, terpapar konsepsi Rendra yang berbunyi:

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.

Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,

tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.

Kita mesti keluar ke jalan raya,

keluar ke desa-desa,

mencatat sendiri semua gejala,

dan menghayati persoalan yang nyata.

 

Inilah sajakku

Pamplet masa darurat.

Apakah artinya kesenian,

bila terpisah dari derita lingkungan.

Apakah artinya berpikir,

bila terpisah dari masalah kehidupan.

Puisi Rendra itu, membuat saya berpikir untuk merumuskan ilmu fisafat, yang dinukil dari keadaan tanah, air, udara, cahaya matahari di bumi yang dipijak. Kita mesti menciptakan ilmu filsafat sesuai dengan situasi dan kondisi Indonesia, yang berada di bawah garis katulistiwa, yang jelas berbeda dari bangsa Eropa, Asia Utara (China), dan Asia Barat (India dan Arab). Dalam sejarah Filsafat, ilmu filsafat itu ada dua aliran persebarannya, yaitu filsafat barat yang dimulai dari Yunani, dan filsafat Timur yang disebut adalah China, India, dan Jazirah Arabia. Indonesia tidak berada di Barat, tidak pula di Timur. Secara historis, kita tidak dicatat sebagau bangsa yang berfilsafat, sementara filsafat itu adalah Ibu dari ilmu pengatehuan. Berarti kita tidak disebut sebagai bangsa yang memiliki ilmu pengetahuan.

Filsafat itulah yang memungkinkan kita bisa menciptakan sendiri bahasa, dimulai dari merumuskan dan menciptakan kosakata. Kita saat ini adalah pengimpor kosakata, bahkan untuk ilmu bahasa, telah meminjam istilah dari luar, dimulai dari fonologi, morfologi, sintaksis, gramatika, dialektika, dll. , Pepatah Arab mengatakan, ‘aslu lughotan’ (asal usul itu ialah dari bahasa). Penciptaan oleh Tuhan dalam Qurahn dimulai dari bahasa, yaitu Kun (Jadi)! Dari kata menjadi filsafat, dan dari filsafat berlahiran ilmu yang lain.

Karena penciptaan dimulai dari bahasa, dan kita tidak menciptakan bahasa pada Abad modern ini, akhirnya kita menjadi bangsa yang lemah dalam menciptakan banyak hal, terutama piranti teknologi modern yang mengubah peradaban dunia. HP dan internet, yang salah satu anak-emasnya ialah sarana sosial media, telah mengubah banyak kal, dan dalam pusaran perubahan itu, kita hanya menjadi pengikut (follower), pengguna (user), dan pembelanja (importir), dan yang paling parah ialah yang terdampak. Sampai kapan kita menjadi bangsa yang terdampak? Institusi pendidikan, akan mandul dalam mengkader generasi tercerahkan, jika institusi pendidikan tidak berdaya dan ikut-ikutan menjadi pihak yang terdampak.

Pikiran-pikiran saya di atas, adalah cerminan sikap kritis dalam ‘membaca’ keadaan global, dan dengan harapan ada yang berpikir sama, kemudian berjuang bersama mencari jalan keluar sebagai bangsa terdampak yang rajin menjadi follower, user, dan pembelanja yang konsumtif. Saya katakan konsumtif, sebab ternyata pembeli piranti merk Apel serta HP China, terbanyak justru orang Indonesia. Pembeli produk otomotif buatan Jepang, terbanyak juga orang Indonesia. Mungkinkah suatu hari kita yang menjadi penjual produk teknologi itu? Tak ada yang tak mungkin, tapi memang perjuangan amat berat, sebab harus membangunkan kesadaran anak bangsa, dan itu dimulai dari membaca dan berpikir waras.

Pusi dan novel harus dibaca oleh guru, baru kemudian oleh siswa. Lupakan dulu perkara siswa, sebab yang pertama harus menjadi pembaca adalah para guru, dan para guru juga harus rajin menulis atau bahkan menjadi penulis profesional. Dengan rajin menulis, seseorang akan terbawa rajin membaca. Sulit lahir penulis bernas lagi brilian dari seorang yang malas membaca, juga jarang ikut berdiskusi dengan tema-tema yang merangsang untuk berpikir serius. Dari para penggosip dan hanya memikirkan kesejahteraan diri sendiri, rasanya sulit lahir tulisan yang menggugah. Karena itu, mari kita rajin menulis agar makin rajin membaca.

Guru harus duluan membaca dan menulis, karena semboyan pendidikan di Tanah Air hingga tingkat SMA, mengambil salah satu logi dalam trologi pendidikan rumusan Ki Hadjar Dewantara, yaitu Tut wuri handayani, yang artinya guru mendukung dari belakang. Makna terdalam dari maksud logi tersebut adalah, yén seorang pendukung harus kuat, agar ia bisa menjadi tumpuan dan sandaran bagi yang di depan. Bila yang di depan tampak terseok atau akan terperosok, maka si pendukung bisa kukuh menyangga. Tapi bila guru keropos dan mendukung hanya dengan basa-basi, para siswa akan samar langkah dan terperosok. Apalagi di tengah perubahan peradaban yang makin cepat, guru tidak bisa berleha-leha dan mengurung diri di zona nyaman. Anak-anak kita akan berhadapan dengan peradaban sangat canggih, dan dengan kompetisi yang kian erat lagi ketat. Sebentar lagi, kita akan menjadi ‘jadul’ bila tidak terus-menerus belajar.

Guru harus banyak membaca tulisan-tulisan inspiratif, dan terlibat aktif dalam diskusi-diskusi yang mencerahkan. Bila tidak, guru akan tertinggal dalam old version, yang tidak mampu mendesain dan menjadi ‘agent of change’ untuk generasi mendatang. Mereka hanya menjadi robot penyampai, dan sulit menjadi inspirator yang ‘tut wuri handayani’.

Karya sastra, terutama yang klasik, sungguh telah melahirkan inspirasi penciptaan. Perlu diketahui, yén Mark Zuckerber yang menciptakan FB, atau Stave Jobs yang menciptakan produk Apel, atau pengusaha internet Jack Ma dari China, adalah para insinyur yang rajin menyimak karya sastra klasik, macam naskah ‘Illiad’ karya Homers, trilogi ‘Oediphus’ karya Sopochles, atau Siasat Perang Tsun Zu dari China. Para guru di Bandung, tidak perlu terlalu jauh membaca klasik karya maestro dunia, tapi perlu kiranya menghayati puisi Chairil Anwar, Rendra, dll, serta usahakan membaca salah satu novel gubahan Pramoedya Ananta Toer, YB Mangun Wijaya, atau karya Iwan Simatupang.

Bahan bacaan sekarang makin melimpah di internet. Situ-situs platform dari luar negeri, juga menyerang masyarakat kita, dan makin banyak siswa ikut mengaksesnya, misalnya dalam wattpad, i-novel, kwiku, dll. Bila tidak memiliki kadar kritis dalam berpikir, bacaan yang melimpah itu bisa mendorong ke arah kemunduran, alias zonk.

Semoga makalah ini menginspirasi para guru Tim Literasi Sekolah, hingga terdorong untuk bergerak lebih jauh dan keras, demi kemajuan anak-anak kita. Kita dititipi oleh para orang tua siswa untuk mendidik mereka, tapi kita juga menitipkan anak kita untuk dididik oleh guru yang lain. Kita adalah cerminan para guru, dan sebagai cermin, harus lebih mengkilap. ***

Makalah ini disampaikan secara daring dalam Bimbingan Teknis Penguatan Literasi dan Numerasi untuk Tim Literasi Sekolah SMP se-Kota Bandung pada 2021, di Aula Gedung PGRI Bandung.

Doddi Ahmad Fauji, aktivis literasi semesta, dan mengelola penerbitan buku partikelir SituSeni, yang sekaligus menjadi sanggar belajar life skill.

Mungkin Anda Menyukai