Pengalaman Mengikuti Program Pelatihan Guru di China

Pengalaman Mengikuti Program Pelatihan Guru di China

Hari itu adalah hari biasa dengan kegiatan rutin melaksanakan kegiatan di sekolah. Seperti biasa saat mendekati pelaksanaan ujian nasional saya menyiapkan kegiatan untuk persiapan penjajakan ujian nasional. Hari itu menjadi hari istimewa ketika handphone di kantong saya bergetar dan ketika saya angkat, ada seseorang di ujung sana memberi salam dan memperkenalkan diri dengan nama Bapak Heri dari Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan. Beliau menanyakan apakah saya bersedia menjadi cadangan calon peserta kegiatan short course di China dengan syarat dapat menyelesaikan passport selama satu hari. Beliau juga menyampaikan saya dipilih salah satunya karena menjadi finalis OGN tingkat nasional di Lombok dan masuk peringkat 10 besar. Alhamdulillah berkat kebaikan beliau saya masih bisa mengikuti kegiatan Short Course di China walaupun saya tidak dapat menyelesaikan passport dalam waktu satu hari.

 

Sudah berkali-kali saya mengikuti kegiatan OGN Tingkat Kota dengan hasil yang tidak memuaskan. Saya mengikuti OGN sejak tahun 2004 saya mengikuti 4 tahun sekali karena di sekolah kami SMP Negeri 1 Semarang keikutsertaan OGN digilir. Mulai ada titik terang ketika pada Tahun 2017 saya mendapat peringkat 2 OGN Tingkat Kota Semarang. Hal ini mendorong saya untuk lebih bersemangat dalam mempersiapkan diri di tahun berikutnya. Dengan modal handphone butut  yang kaca lcd nya sudah retak retak saya gunakan waktu luang untuk belajar. Belajar bisa saya lakukan kapan saja, saat  istirahat, saat mau tidur, saat menunggu kegiatan, saat memancing dan saat paling baik bagi saya adalah ketika mempersiapkan materi untuk pembelajaran. Alhamdulillah tahun 2018 saya mendapat Juara 1 OGN Bidang IPA Tingkat Kota Semarang dan maju ke Tingkat Provinsi.

 

Saya merasa banyak orang pesimis ketika saya mewakili Kota Semarang maju ke tingkat Provinsi Jawa Tengah, bahkan ketika saya ngobrol dengan peserta dari luar kota Semarang yang baru saya kenal, dia juga menunjukkan perasaan pesimis dengan keberhasilan saya. Saya tidak tahu ada apa dengan diri saya dan ada apa dengan fikiran mereka. Namun masa bodoh dengan pikiran mereka, karena yang menentukan keberhasilan seseorang bukan mereka tapi Tuhan, doa dan usaha yang dilakukan orang itu sendiri. Alhamdulillah pada penyisihan tingkat Provinsi Jawa Tengah saya bersama dengan teman dari Kabupaten Magelang lolos mewakili Provinsi Jawa Tengah maju sebagai finalis OGN tingkat nasional di Lombok.  Walaupun tidak memperoleh predikat juara saya sangat bersyukur karena pada pelaksanaan OGN di Lombok dapat masuk 10 besar dan mendapat peringkat 7 tingkat nasional. Setelah kegiatan tersebut Alhamdulillah saya ditunjuk menjadi Guru Mitra 1 untuk mendampingi teman-teman Guru Mitra 2 di Kabupaten Belitung dalam Kegiatan Kemitraan Guru tahun 2018.

 

Saya sangat bersyukur dipilih menjadi salah satu guru di antara 1000 guru lain yang ditunjuk untuk mengikuti program guru ke luar negeri. Dalam program tersebut kami diberi kesempatan untuk belajar di CUMT (China University Mining and Technology ) yang terletak di Kota XuZhou, sebuah kota yang indah,dengan  lingkungan bersih dan teratur tidak seperti China yang selama ini saya bayangkan. Banyak pengalaman berharga yang dapat saya peroleh. Mulai dari bagaimana saya merasakan perbedaan iklim, perbedaan kebiasaan/tradisi, dan bagaimana mengenal kemajuan yang sudah dicapai oleh bangsa lain di luar negeri. Tiga minggu kami berada di XuZhou, merasakan bagaimana hidup sehari-hari, makan sehari-hari, bergaul dengan orang-orang di sana. Mengikuti ceramah dari Bapak Dr. Praptono di Jiangsu Vocational Institute of Architectural Technology tentang bagaimana kita menyiapkan mental yang kuat dan akal yang sehat bagi peserta didik melalui proses pembelajaran yang relevan terasa lebih menyentuh karena kita melihat dan merasakan secara langsung keadaan dan kemajuan teknologi negara lain dibanding negara kita sendiri. Hal lain yang berkesan bagi saya yaitu meskipun negara ini sudah maju akan tetapi tetap menjaga tradisi, hal ini ditunjukkan kepada kami saat diajak ke Papaer-cut Hand Craft di Ziwei Academy Greentown Garden. Disitu kami dikenalkan pada tradisi membuat kerajinan tradisional membuat bunga dari plastisin, selain itu kami juga dikenalkan dengan pakaian tradisional China. Hal ini yang juga berkesan bagi saya adalah ketika kami diajak mengunjungi Guishan Han Tomb & Imperial Edict Museum. Di situ kami melihat makam kuno berupa batu di dalam tanah yang dipahat secara manual dengan volume lebih dari 2.600 m3 dengan lorong-lorong yang presisi. Dengan teknologi yang dimiliki pada masa itu kira-kira abad 2 SM, tampaknya membuat bangunan seperti itu merupakan hal yang mustahil. Dari situ saya berkesimpulan bahwa manusia merupakan makhlu hidup yang sangat kuat, bila manusia itu meiliki keinginan yang kuat maka manusia manusia mampu mewujudkan sesuatu yang tampaknya mustahil.

 

Terima kasih kami ucapkan kepada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang telah memilih kami sebagai salah satu peserta program pelatihan 1000 Guru ke Luar Negeri, terima kasih teman-teman guru yang telah bersama-sama saling mendukung mengikuti kegiatan. Semoga kegiatan ini bermanfaat untuk semua.

Mungkin Anda Menyukai

Satu tanggapan untuk “Pengalaman Mengikuti Program Pelatihan Guru di China

  1. Assalamualaikum wr wb keren Om Jay blognya alhamdulillah saya bersyukur bisa ikut diklat kalau tdk rugi karena begitu banyak pakar – pakar blog yang terutama seperti Om Jay, Pak Edi dan Pak Seto matursuwun ilmunya semoga saya bisa terus belajar dengan ngotak ngatik icon2 diblog.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.