Peningkatan Kualitas dan Metode Pengajaran[1]

Oleh Jejen Musfah

Ath-thariqatu ahammu minal maaddah

Metode lebih penting daripada materi

Pembelajaran yang baik melibatkan siswa, misal melalui metode tanya-jawab, demontrasi, praktik, atau presentasi. Pelibatan siswa membuat mereka tidak merasa bosan. Meski terkesan mudah, pembelajaran yang berpusat pada siswa sulit bagi guru-guru tertentu.

Pengalaman menilai guru-guru dalam praktik mengajar program Pendidikan Profesi Guru (PPG), mereka sulit meninggalkan metode ceramah. Dari awal sampai akhir mengajar. Padahal dalam RPP yang mereka tulis, terdapat pelibatan siswa. Padahal mereka sudah dilatih selama 2 minggu atau 4 bulan.

Artinya, tidak mudah mengubah kebiasaan guru mengajar; dari cara lama yang berpusat pada guru ke cara baru yang berpusat ke siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang merdeka, punya pendapat, pengalaman, pengetahuan, yang layak didengarkan.

Siswa diberi kesempatan untuk menyampaikan ide dan gagasannya, sekaligus untuk melatih kemampuan komunikasi lisan mereka.

Meski pembelajaran daring, guru hebat akan tetap bisa menyampaikan pembelajaran yang menarik.

Berikut hasil wawancara dengan anak saya yang kelas 1 SMP dan kelas 3 SMA, tentang cara mengajar guru mereka. Pertanyaannya, bagaimana seharusnya guru mengajar?

Pertama, PPT yang menarik. Siswa akan senang jika PPT yang dibuat guru menarik. Tidak standar atau biasa-biasa saja. Jujur, ini kelemahan saya. Mungkin ini khas anak-anak milenial atau generasi z. Yang suka akan penampilan, bungkus, disamping substansi. Mereka menambahkan, mungkin di kuliah atau mahasiswa tidak terlalu menganggap penting tampilan PPT.

Kedua, tidak sering memberi tugas. Masa pengerjaan tugas tidak mepet. Contoh, guru yang mengajar 2 kali dalam seminggu. Seharusnya tidak memberikan tugas setiap pertemuan. Di era pembelajaran daring, di antara yang dikeluhkan siswa adalah banyaknya tugas.

Di sisi lain, ada penilaian bahwa semakin bagus suatu sekolah, semakin banyak memberikan tugas. Sekolah yang tidak memberikan tugas, atau sedikit tugas, dianggap siswa tidak sekolah. Sebagian orang tua lebih suka anak-anak mereka mengerjakan tugas, dibanding banyak waktu luang.

Ini semacam dilema dalam pembelajaran. Jelas yang benar adalah pemberian tugas yang tidak bertumpuk pada satu waktu secara bersamaan. Ini mengharuskan kordinasi dari para guru atau kontrol tugas guru dari wali kelas masing-masing. Jika tidak, alih-alih belajar, siswa malah akan merasa stres atau tertekan.

Ketiga, tidak pemarah atau sabar. Merespon “kenakalan” siswa dengan bijak atau lemah lembut. Dalam setiap kelas mungkin ada siswa yang berperilaku tidak seperti kebanyakan siswa lainnya. Ini semacam penyakit perilaku bawaan karena aneka masalah di keluarga si anak.

Mereka mencari perhatian guru atau siswa dengan cara membuat “sedikit gangguan” di kelas. Teguran halus dan tegas tidak berpengaruh. Memang demikian karakter si anak. Cara guru menegur siswa seperti ini akan meninggalkan kesan baik atau buruk kepada guru yang bersangkutan.

Guru boleh marah atau tegas di depan kelas tetapi dengan alasan yang jelas. Marahnya pun harus terkontrol, jangan sampai mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, apalagi menggunakan fisik yang bisa melukai.

Keempat, tidak fokus pada diri sendiri atau dominan. Meminta siswa bertanya, tapi saat siswa bertanya, memberi komentar seperti: “ngapain saja saat belajar tadi.” Menunjukkan bahwa seorang guru harus bisa adaptif terhadap perkembangan emosional dan kognitif siswa.

Misal pertanyaan siswa, mungkin menurut level guru pertanyaan itu tidak bermutu, tetapi tidak lantas harus membuat guru marah atau mencela siswa yang bertanya. Guru harus menerima dan menjawab apa pun pertanyaan siswa karena mereka telah memintanya.

Kualitas pertanyaan menunjukkan level kognisi atau pengetahuan siswa. Maka guru harus menjadikannya sebagai bahan untuk evaluasi. Bagaimana kelak menjadikan siswa yang bisa mengajukan pertanyaan yang berkualitas.

Kelima, to the point, langsung pada inti materi pelajaran. Tidak terlalu banyak bicara di luar materi ajar. Kita sering menemukan di mana guru atau dosen lebih banyak membicarakan hal-hal di luar konteks materi pembelajaran. Apakah itu politik, ekonomi, keluarga, pribadi, sehingga membuat siswa merasa bosan.

Parahnya, siswa tidak banyak mendapatkan hal-hal baru terkait materi ajar. Siswa tidak lebih mengerti pelajaran karena gurunya out of context. Pada banyak sekolah, tidak ada sistem atau mekanisme pelaporan kinerja guru sehingga guru semacam ini bisa mengubah kesalahannya. Supervisi akademik tidak berjalan atau kepala sekolah tidak berfungsi sebagai supervisor.

Keenam, menggunakan bahasa, kata, atau kalimat yang sesuai dengan usia siswa. Dikatakan, seorang guru terkenal pintar, tapi caranya menyampaikan materi dinilai terlalu tinggi untuk ukuran seorang siswa SMA. Lebih pantas untuk mahasiswa. Siswa kurang paham setiap guru ini mengajar padahal ia terkenal guru pintar.

Ada kaidah Bahasa Arab yang menyebutkan: li kulli maqam maqal wali kulli maqal maqam; setiap perkataan itu ada tempat terbaik dan setiap tempat memiliki perkataan (yang terucap) yang terbaik pula. Bahwa bicaralah sesuai tempatnya.

Kompetensi profesional tidak berbanding lurus dengan kompetensi pedagogik guru. Seorang guru harus menguasai materi sekaligus menguasai ilmu cara menyampaikannya. Guru harus menyampaikan materi tidak tergesa-gesa atau cepat, sedang dan bila dibutuhkan mengulanginya, karena kecerdasan siswa beragam.

Ketujuh, menyiapkan pembelajaran dengan baik. Siswa juga mengharapkan guru menyiapkan pembelajaran. Mereka tidak ingin guru hanya bicara di depan kelas tanpa membuat PPT. Guru bicara sementara siswa diminta mencatat. Dikatakan, perencanaan yang baik adalah setengah dari keberhasilan.

Sebagian siswa cocok dengan metode ceramah, tetapi sebagian lainnya tidak. Dalam teori belajar, gaya belajar siswa dibagi menjadi tiga tipe, yaitu visual, auditori, dan kinestetik. Variasi metode pembelajaran akan membantu siswa menerima pengetahuan, keterampilan, dan sikap baru.

Guru tidak terus menerus ceramah, tetapi tanya-jawab, demontrasi, praktik, presentasi, dan menggunakan media gambar, video, dan kuis. Hal ini hanya mungkin dilakukan jika guru menyiapkan pembelajaran dengan baik.

Sebagian kita sering bingung membedakan pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran. Tabel berikut akan membantu kita memahami perbedaan istilah-istilah tersebut.

Pendekatan pembelajaran Berpusat pada guru, berpusat pada siswa
Strategi pembelajaran Exposition – discovery learning, group – individual learning
Metode pembelajaran Ceramah, demontrasi, praktik, presentasi
Teknik dan taktik Bersifat spesifik, individual, unik

Tripren.com

Dampak Pembelajaran yang Menyenangkan

            Guru dianggap berhasil menyampaikan materi pelajaran saat siswa mudah memahami materi dan merasa senang saat belajar bersamanya. Maka siswa akan menyenangi mata pelajaran yang diampu guru ini, dan hasilnya akan bagus.

Mata pelajaran yang sama tetapi disampaikan oleh guru yang berbeda dan beda metode akan berbeda pula dampak dan hasilnya bagi siswa. Dua anak saya membuktikan simpulan ini, bahwa cara dan sikap guru selama mengajar memengaruhi kecintaan dan hasil belajar mereka.

Pada dasarnya tidak ada materi atau pelajaran yang sulit, tetapi tergantung kepada cara guru menyampaikannya. Jika guru terampil menggunakan aneka pendekatan dan metode mengajar, maka siswa akan mau dan senang belajar sehingga hasilnya akan baik.

[1] Dirjen GTK Kemendikbudristek, Kunjungan Kerja Komisi X DPR RI, Novena Hotel Bandung, Sabtu, 23 Oktober 2021

1 thought on “Peningkatan Kualitas Pembelajaran

Comments are closed.