PGRI KUSAYANG, TETAP KUSAYANG
Oleh: Syam Zaini
Ketua PGRI Prov Sulawesi Tengah
___

“Penumpang kapal itu berusaha merebut kendali kapal, dengan cara membocorkan dinding-dinding kapal”.

Diusianya yang memasuki 78 tahun, sangat wajar organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menjadi sesuatu yang “menggiurkan”, baik internal maupun kalangan eksternal. Betapa tidak, segala macam cara digunakan untuk berusaha “merebut” kendali nakhoda, yang terkadang menggunakan cara-cara yang tak lazim, yang jauh dari etika sebagai wadah berkumpulnya para kaum pembangun insan cendikia. Menuduh orang lain melanggar AD/ART, namun justru sipenuduh menggunakan prosedur tak sejalan dengan AD/ART, kesan mengadu domba (yang “doeloenya”) teman dan sahabat pengusungnya, berubah menjadi “pemasok” ujaran kebencian. Ketidak senangan pribadi diumbar diberbagai grup, kekecewaan (yang mungkin) dialami secara pribadi menjadi bahan komoditas untuk menjatuhkan. Tatanan hirarki organisasi yang sudah berjalan dengan baik, malah dijadikan “alat” untuk membangkang organisasi diatasnya. Muncul kesan seakan-akan “jika kami tak dapat kendali kapal, mari kita hancurkan bersama kapal yang ditumpangi ini”, sangat ironis dan memprihatinkan, suatu sikap yang sangat jauh dari seorang organisatoris sejati.

Tujuan utama pendirian PGRI itu: a) Membela dan mempertahankan Republik Indonesia (organisasi perjuangan); b)Memajukan pendidikan seluruh rakyat berdasarkan kerakyatan (organisasi profesi); c)Membela dan memperjuangkan nasib guru (organisasi ketenagakerjaan). Seluruh pengurus diberbagai tingkatan berserta anggotanya harus mengetahui dan memahami tujuan PGRI, sebagai spirit organisasi yang merupakan cita-cita para pendirinya. PGRI bukan untuk dijadikan alat propaganda, bukan untuk kepentingan pribadi dan sesaat, bukan untuk dijadikan “karpet merah” untuk mendapatkan jabatan. Jika semua pengurus dan anggota organisasi PGRI menyadari hal ini, maka tak akan terjadi “egoisme” untuk merebut kendali kapal secara tidak prosedural, memaksakan kehendak yang tidak sejalan dangan khittah organisasi.

Perjalan PGRI sepanjang sejarahnya banyak memasuki onak dan duri, berbagai pengalaman diera orla, orba sampai saat ini semestinya menjadi ibrah (pelajaran) bagi semua pengurus dan anggota yang masih berkomitmen mencintai PGRI ini, yang mana pada masa-masa tersebut PGRI sangat akrab dengan politik praktis dan dijadikan kendaraan politik bagi pemerintah. Selanjutnya, bagaimana kita belajar dari masalalu, sudahkah kita bercermin darinya? Berpulang kepada kita semua.

PGRI memiliki potensi yang sangat besar dan mumpuni, sebagai wadah berkumpulnya insan pendidik dan kependidikan. Ada dua potensi besar yang dimiliki PGRI, yaitu: 1) Organisasi dan 2) Sumber Daya Manusia.

ORGANISASI;
Dari segi struktur, kultur, subtansi merambah semua lini, sampai ketingkat satuan pendidikan (ranting). Semangat juang yang tinggi dari organisasi untuk mencapai tujuan yang telah dikrarkan, menjadi spirit yang tak dapat dikalahkan. PGRI melalui sarana organisasi dan anak lembaganya, selalu berusaha maksimal melayani anggotanya.

SUMBERDAYA MANUSIA;
Para pengurus memiliki komitmen yang kuat, Solidaritas merupakan seruan yang “menggetarkan”. Penyebaran jumlah anggota, kualitas pribadi beserta tempat tugas sampai kepedesaan dengan jumlah terbanyak dari ASN yang ada, merupakan potensi yang bisa “mengubah” kebijakan dinegeri ini. PGRI memiliki kekuatan sebagai pressure power {menekan), thingking power (pemikiran) dan control power (pengendalian).

Seiring dengan berkembangnya zaman, silih berganti pimpinan negeri yang juga silih bergantinya pengurus baik ditingkat PB, Provinsi dan kabupaten/kota maka tentunya organisasi PGRI memiliki tantangan tersendiri: 1) Pasca reformasi menuntut keterbukaan dan demikratisasi dalam pengelolaan organisasi; 2)Perubahan digitalisasi saat ini sedemikian cepat, sehingga harus dapat dikendalikan agar perubahan itu bermakna bagi cita-cita, jiwa dan jati diri PGRI; 3)Dalam berbagai forum organisasi menampakkan gejala, cara dan praktik organisasi yang lebih terbuka; 4)Tampilnya pemimpin-pemimpin muda dalam jajaran kepengurusan PGRI yang memiliki karakter, persepsi yang terkesan “agresif” dalam berorganisasi.

Tak pelak lagi pegurus PGRI diberbagai tingkatan haruslah memiliki komitmen; memiliki wawasan luas (tidak primordial, tidak menjual SARA untuk meraih simpati), aktivitas yang terarah pada tujuan organisasi, kematangan emosional, memiliki identifiksi rujukan, proyek ke masa depan serta memiliki ketabahan dalam menghadapi tantangan.

PGRI KU SAYANG…, TETAP KUSAYANG..!!
Jangan bocorkan kapal kami tercinta ini melalui tindakan-tindkan para pragmatisme organisasi yang tak terpuji dan tercela.

Wassalaam…., tabe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *