Refleksi Akhir Tahun 2021 PB PGRI

Refleksi Akhir Tahun 2021

Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI)

Menyambut tahun 2022 yang sebentar lagi mengisi kehidupan kita, terdapat beberapa catatan kritis Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI). Catatan kritis tersebut sebagai refleksi hal-hal yang masih perlu diperbaiki di masa mendatang. Tujuannya agar tidak mengulang kesalahan di masa lalu dan menyatakan bahwa pendidikan di Indonesia seolah hanya jalan di tempat.

Melihat fenomena pendidikan abad 21 dan dunia pendidikan kini yang dihadapkan kenyataan di masa pandemi, PGRI memandang bahwa disrupsi teknologi mempercepat terjadinya peningkatan kualitas pendidikan. Menurut salah satu hasil studi, anak Indonesia hanya menggunakan 2.5 jam waktunya untuk belajar. Persoalan produktivitas ini diperkirakan memengaruhi 1,5% dari GDP kita. Dengan penguasaan teknologi dan penyiapan serta penataan infrastruktur teknologi yang baik, maka dapat membantu mengakselerasi kualitas pendidikan kita.

Selama ini terdapat potensi bahaya yang tersimpan cukup lama, namun tidak kita sadari. Yaitu pendidikan di Indonesia mengalami stagnasi dalam kualitas paling tidak selama kurang lebih dua dekade terakhir. Dari tahun ke tahun, berbagai persoalan pendidikan tidak kunjung terselesaikan secara tuntas. Berbagai persoalan pendidikan yang masih membelit bangsa ini seolah menunjukkan bahwa kita tidak pernah serius menata pendidikan itu sendiri.

Semakin lama kualitas pendidikan Indonesia tidak semakin baik. Hal itu terlihat dari berbagai ukuran-ukuran internasional mengenai kemajuan pendidikan dan daya saing bangsa seperti penilaian PISA dan TIMMS, selama kurang lebih 20 tahun terakhir tidak menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Apa yang salah dalam dunia pendidikan kita? Seringkali guru dipersalahkan dalam situasi ini padahal mutu pendidikan terkait dengan kebijakan dan kurikulumnya. Semakin baik kebijakan pendidikan, maka semakin baik pula kualitas pendidikan.

Sebenarnya guru adalah ujung tombak untuk melakukan perubahan dan perbaikan kualitas pendidikan. Karena itu perannya harus diperkuat, diberdayakan, dan diberikan otonomi. Jangan sampai kalau ada persoalan pendidikan, seolah-olah guru menanggung beban itu sendirian. Beberapa dekade terakhir ini, para guru kita sebenarnya sudah melakukan banyak inovasi dan berbagai upaya terobosan yang tidak linear, kreatif, dan menyentuh akar persoalan pendidikan yang sebenarnya.

Mencermati kebijakan pemerintah selama 2021 terutama menyangkut tentang guru dengan segala dinamikanya, maka PB PGRI menyampaikan pandangan dan sikap sebagai berikut:

  1. Memahami kebijakan pemerintah menyangkut Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di tengah keterbatasan anggaran yang tersedia. Meski demikian pola rekrutmen guru dan tenaga kependidikan dalam PPPK perlu diperbaiki, di antaranya dengan memberikan afirmasi 100 persen kepada guru dan tenaga kependidikan (GTK) yang telah mengabdi minimal lima tahun. Artinya, GTK yang telah mengabdi minimal lima tahun atau lebih, sebagai bentuk penghargaan dan loyalitasnya terhadap pendidikan perlu otomatis lulus PPPK.
  2. Menempatkan guru dan tenaga kependidikan yang lulus PPPK di sekolah tempat asalnya, sehingga tidak mengganggu aktivitas belajar-mengajar di sekolah tersebut.
  3. Menyelesaikan rekrutmen GTK honorer menjadi GTK PPPK maksimal tahun 2023.
  4. Rekrutmen GTK baru di sekolah negeri selanjutnya hanya dengan status Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau PPPK, dan tidak ada lagi yang berstatus
  5. Perlunya membuka kembali formasi PNS untuk guru di tahun 2022 dan 2023 mengingat profesi guru perlu diminati oleh anak bangsa yang berdedikasi tinggi, berkompeten, dan mendapat jaminan kesejahteraan yang layak dari negara.
  6. Perlu menyediakan formasi guru berbasis pemerataan guru yang berimbang dan berkeadilan sesuai kebutuhan daerah, karena selama ini distribusi guru tidak merata dan berimbang di sejumlah daerah.
  7. Status Guru Penggerak tidak dijadikan syarat utama untuk menjadi kepala sekolah, karena tidak seimbangnya jumlah guru penggerak dengan kebutuhan formasi kepala sekolah yang tersedia.
  8. Perlu melakukan evaluasi menyeluruh sistem perekrutan guru Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan memperhatikan afirmasi yang berkeadilan bagi para guru honorer yang telah berusia di atas 35 tahun.

Demikian catatan refleksi akhir tahun 2021 kami. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan kekuatan dan petunjuk agar arah pendidikan kembali menemukan jalan sesuai jati diri bangsa Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

13 Komentar

  1. Setuju sekali om Jay. Apapun alasan masyarakat untuk mnjd guru patut diapresiasi krn sesunggyhnya kita kekurangan guru. Perlu diatur dlm penempatan guru. Kota besar kelebihan guru hingga terjd penumpukan artinya 1 kls bisa 2 guru smntr didaerah 1 sklh 3 guru. Ketimpangan ini hrs segera diatasi. Mutasi guru dari kota besar kekota kecil serta merekrut calon2 guru daerah dididik dahulu dikota besar u mnjdkan guru daerah berkualitas juga.

    GURU AHLI siap mendukung program pemerintah bersama PGRI dalam meningkatkan sumber daya manusia (GURU) juga siswanya.berkualitas Internasional

  2. Hidup Guru, hidup PGRI, semoga refleksi akhir tahun makin memperkuat peran PGRI dalam memengaruhi kebijakan pemerintah melalui tindakan yang efektif, terukur, dan elegan

  3. Assalamualaikm.wr wb
    Saya sudah mengabdi jadi guru tk lebih dari 20 th
    Tapi ikut ppg sampai sekarang blm lulus juga.bagi saya sangat sulit sekali sampai kpn saya dapat kesejahteraan.saya ngajar molai dari th 1998 sampai sekarang th 2021.
    Saya mohon ada kebijakan tersendiri bagi guru yg pengabdianya sudah 20 th atau hampir lebih .mohon diperhatikan.
    Wassalam

  4. Refleksi dan harapan PBPGRi yang luar biasa. Kalau saja harapan ini terpenuhi, tidak akan ada lagi sekolah yang gedungnya tidak layak, sementara di sekolah yang lain bergitu mewah. Ada guru yang kekurangan jam mengajar di suatu sekolah, sementara di sekolah yang lain krisis jumlah guru. Belum lagi terkait kurikulum. Kurikulum yang satu belum lagi rata penerapannya, muncul kurikulum lain yang sudah menanti untuk diterapkan.

  5. Due to the policies in teacher recruitments, hopefully we can all move together, act in harmony to upgrade every teacher’s competence and quality, and prepare them with growth mindset development.

  6. Setuju p3k tun
    Diusahakan linier
    Sejak dulu semua ASN guru tidak ada yang instan,semuanya berpros dengan tahapan ,langkah program yang di laluinya melalui tes ,semuanya menjadikan guru lebih berkwalitas.
    Awalnya semua calon guru ASN dari menghonor dalam waktu yang cikup lama, ibarat di gojlog antara ilmu teori yang di dapatkan dicampus ,dengan praktek langsung berhadapan dgn siswa,semua itu jadi ilmu.

  7. Setuju p3k tuntas
    Diusahakan linier
    Sejak dulu semua ASN guru tidak ada yang instan,semuanya berpros dengan tahapan ,langkah program yang di laluinya melalui tes ,semuanya menjadikan guru lebih berkwalitas.
    Awalnya semua calon guru ASN dari menghonor dalam waktu yang cikup lama, ibarat di gojlog antara ilmu teori yang di dapatkan dicampus ,dengan praktek langsung berhadapan dgn siswa,semua itu jadi ilmu.

  8. Terimakasih PB PGRI, semoga refleksi tahun 2021 ini menjadikan kita semakin baik untuk meningkatkan kualitas pendidikan di mulai dari kualitas guru-gurunya. Semangat..untuk mrnyambut tahun 2022