Rendah Hati

Rendah Hadi.

Rendah Hadi namanya. Dalam keseharian dia mengidentifikasi diri sebagai “Rendy”. Dia merupakan salah seorang peserta bimtek penggunaan dan pemanfaatan akun belajar.id dan TIK SD tahap 12 regional Denpasar yang kegiatannya diselenggarakan 25-28 November 2021, di hotel Prime Sanur Bali. Pria agak berewok dengan bulu hidung lumayan lebat ini, mengajar di SDN 6 Sesait dengan status guru honorer, peserta Diklat satu-satunya dari Kabupaten Lombok Utara.

Rendy mengaku pertama kali keluar daerah. Dengan dana talangan 700 rb dari sekolah Rendy mencoba memesan tiket penerbangan Lombok – Denpasar senilai 500 rb. Dalam waktu yang mepet, konon seorang temannya siap membantu tetapi sayang tiketnya sudah habis.

Rendy bingung. Dia sendiri tidak tahu harus ke mana. Denpasar baginya adalah makhluk alien, sosok dalam dongeng yang hanya pernah didengarnya dalam legenda dan cerita dari mulut ke mulut.

“Sampai di Padang Bae saya harus ke mana?” tanyanya kepada seorang teman sebelum berangkat.
“Naik bis atau taxi dan minta diturunkan di jalan by pass. Bisa juga numpang dump yang membawa barang ke Denpasar. Bahkan biayanya lebih murah,” demikian petunjuk temannya.
“By pass? Jalan apa itu?” kebingungan Rendy membengkak sampai volume paling maksimal. Tetapi Rendy punya prinsip dan tekad baja.

“Saya harus berangkat,” katanya. “Saya peserta satu-satunya dari Lombok Utara.”

Rendi memutuskan menggunakan transportasi laut. Dari rumah Rendy berangkat dengan taxi. Berdasarkan argo dia harus bayar Rp 98.200. Saat berangkat Rendy ketemu masalah. Sepatu satu-satunya yang dijemur basah karena hujan. Dalam perjalanan dari rumah ke Lembar, Rendy nekad membeli sepatu seharga 95 rb.

“Harga itu cukup nyaman di kaki saya. Sudah termasuk kaos kaki. Tetapi sisa anggaran perjalanan berkurang,” aku Rendy sambil memperlihatkan sepatunya yang masih mengkilap.

Untuk ke pelabuhan Lembar Rendy naik taxi.

“Di pelabuhan turunkan saya di tempat pelayanan Rafid test,” pesannya kepada sopir taxi.

Di pelabuhan Lembar Rendy masih diliputi kekuatiran dengan dana yang ada di kantongnya.

“Kalau harga tiket pesawat sampai 500 rb, berarti tiket feri bisa setengah dari itulah,” bathinnya saat turun dari taxi menuju tempat colokan Rafid tes.

Setelah tes rapid Randy menghampiri loket untuk membeli tiket.

“57.500 Pak,” kata petugas tiket sambil menyerahkan selembar kertas.
“Berapa?” dada Rendy berdegup kencang tak percaya bak Majnun mendapatkan respon cinta Layla.

“Benar? 57 ribuan?” Rendy masih tidak yakin dan berusaha menggugat jawaban pasti karena kuatir pendengarannya bermasalah.

“Lima puluh tujuh ribu lima ratus rupiah,” ulang perugas tiket dengan sedikit tinggi tetapi pelan agar Rendy mendengar dengan jelas.

Rendy hampir bersorak mendengar harga tiket itu.

“Alhamdulillah,” Rendy nyaris menitikkan kristal bening di sudut matanya sambil melafalkan kalimat syukur.

Di atas kapal feri yang ditumpanginya, Rendy masih dirundung bingung menggunung.

“Di padang Bae nanti mau ke mana dan naik kendaraan apa?” pertanyaan itu terus berulang dalam pikirannya.

Rendy mondar-mandir dalam kapal melihat-lihat penumpang barangkali ada yang dikenalnya. Dia juga terus memperhatikan mobil angkutan barang di lantai bawah seperti truk yang bisa ditumpanginya sampai tujuan berdasarkan cerita teman-temannya.

Sepanjang perjalanan laut Rendy terus berharap dalam doa yang diyakininya sangat makbul agar sampai tujuan. Sesekali Randy membuka pesan WA sambil terus berfikir kelanjutan perjalanannya.

Dalam WAG sekolah, beragam celoteh rekan-rekan di sekolah yang membahas tentang diri dan perjalanannya.

“Lumayan juga uang yang diterima Pak Rendy.”
“Transport dan honor Diklat Denpasar, hadiah dari Pak Ganjar, transport operator, honor kegiatan, belum lagi insentif dari Baznas. Kalau ditotal bisa mencapai 3 jutaan.”

“Horeeee! Dapat hadiah daster satu satu dari pak Rendy.” demikian pesan WAG seorang Ibu guru.

Cekrek. Randy memotret tanda bukti biaya perjalanannya dan mengirimkan gambarnya ke wa. Totalnya sdh di angka 500 ribuan.

“Astaga naga…. Uangnya cukup sampai tujuan pak Randy?” tulis ibu guru yang berharap dapat oleh-oleh daster dengan emoji nangis banjir air mata.

“Mau tidak mau harus cukup,” balas Randy dengan emoji tangan terkepal tanda optimis. Randy menyudahi obrolan wa.

“Ke mana Dik,” tanya Rendy setelah menutup obrolan dan melihat seorang remaja yang diyakini dari Lombok menjelang berlabuh di Padang Bae.

“Ke Denpasar.”

Rendy sedikit lega.

“Denpasar mana?”
“Sanur.”
Bagai seseorang pulih dari asma, dada Rendy selega lapangan bola mendengar kata Sanur.

“Nah ini orang yang saya cari,” Rendy hampir memeluk remaja itu.
“Naik apa?”
“Truk sampai Denpasar. Nanti di sana ada yang jemput.”

Hati Rendy yang membuncah mendadak tenang, setenang syuhada menghadapi kematian.

Bersama remaja itu Randy melanjutkan perjalanan darat menuju Denpasar. Luar biasanya, Rendy malah dapat tumpangan portuner yang mengantarnya sampai pelataran hotel. Sebagai rasa terima kasih Rendy merogoh kantongnya dan menarik selembar kertas merah untuk sang pengantar. Uang itu sempat ditolak sopir tetapi Rendy bukanlah seseorang yang memiliki mental gratisan. Rendy menjejali saku celana driver itu dengan kertas berharga ditangannya.

“Tidak percuma Pak Rendy dianugerahi wajah memelas. Salah satu hikmahnya kita bisa ngopi dan ngudut di di sini,” saya menyela ceritanya dengan berseloroh.

Rupanya masalah belum selesai. Di depan hotel Rendy diminta check in online dengan membuka aplikasi peduli lindungi. Sementara memori hape bututnya terlampau kecil untuk menampung aplikasi pencegah covid itu.

“Aplikasi apa itu? Saya tidak ngerti,” Rendy menjelaskan ketidaktahuannya kepada petugas check in.
“Terus bagaimana bisa lolos di bandara?”
“Saya juga tidak tahu. Saya keluar masuk bandara begitu saja. Tidak ada yang tanya. Saya lihat orang masuk saya ikut masuk.”

Perempuan petugas check in manggut-manggut mendengar penjelasan Rendy. Rupanya wajah memelas dan pasi Rendy akibat penat dan lapar setelah menempuh perjalanan darat dan laut membuat petugas check in percaya.

“Berarti petugas di bandara itu orang-orang baik yang memberikan kesempatan orang baik seperti Bapak untuk ikut bimtek di hotel ini. Kalau begitu saya ingin menjadi orang baik. Silakan Bapak masuk dan registrasi kamar,” Rendy dipersilahkan menuju loby untuk tanda tangan dan mangambil kartu hotel.

Registrasi belum selesai. Peserta harus menyerahkan sejumlah dokumen kepada panitia Diklat berupa SPPD, surat tugas dari dinas terkait, hasil rapid tes, sampai boarding pass dan bukti biaya perjalanan lainnya. Sebagaimana peserta lain, Rendy juga diminta registrasi online yang disiapkan pihak panitia dengan mengisi biaya perjalanannya.

Persoalan baru muncul lagi. Hape tidak memungkinkan registrasi online. Ternyata panitia memberikan kebijakan untuk Rendy. Dia boleh registrasi manual.

Saat menuliskan rincian biaya perjalanan tangan Rendy terhenti. Randy hanya memiliki bukti tiket kapal, bukti bayar taxi, dan biaya rapid. Kalau ditotal hanya mencapai 250 ribuan. Sampai di sini Rendy memeras pikiran.

“Bagaimana ini? Bukti pengeluaran hanya 250 ribuan. Biaya perjalanan yang bisa dibuktikan tiket kapal dan taxi. Cuma 150 ribuan. Kalau dikalikan 2 sekitar 300 rb. Tidak sampai 400 apalagi 500 rb. Biaya apalagi yang harus dicantumkan?” pikiran Rendy menyusun narasi pengandaian sendiri tentang biaya yang harus ditulis.

Rendy dapat ide. Biaya tiket kapalnya ditambah angka 1 di depannya sehingga berubah dari 57 ribuan menjadi 157 ribuan. Sempat terpikir untuk menambahkan angka nol di ujung 57 ribu tetapi dalam pikiran bersahajanya muncul ketidakmungkinan harga tiket mencapai nilai sejumlah itu.

Rendy menceritakan pengalamannya dengan runut. Semua pendengarnya seakan larut dalam alur ceritanya yang dinamis. Kisah perjalanannya mempermainkan emosi saya dan semua kumpulan pengobrol malam pertama di lokasi bimtek.

Rendy bagi saya adalah pribadi yang penuh pengabdian. Saya meyakini Rendah Hadi adalah guru yang dirindukan tidak saja oleh siswanya tetapi semua orang yang dekat dengannya. Saya percaya Rendy adalah sosok sentral di sekolahnya. Dia bukan kepala sekolah tetapi jiwanya menggambarkan bahwa gaya bicaranya, sikap, dan gaya berfikirnya merupakan sosok yang bekerja dengan ikhlas dan memiliki integritas yang patut dijadikan teladan oleh kita semu.

Tetap semangat Pak Rendy. Bagi saya anda adalah peserta bimtek terbaik dalam kesempatan ini.

Prime Plaza hotel Sanur, 28 November 2021

Mungkin Anda Menyukai

Satu tanggapan untuk “Rendah Hati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.