Tak Ada “Lawan”, Yang Ada “Rekan Sparing”
Oleh: Syam Zaini
Tinggal di kota Palu
__

Konsep Solidaritas tak mengenal “musuh dari lawanku adalah temanku, kawan dari lawanku adalah musuhku”.

Perhelatan pesta demokrasi yang akan dimulai oleh suksesi kepemimpinan negara, daerah, bahkan merambah organisasi kemasyarakatan apapun, tentulah akan terjadi “hingar bingar”. Bak sebuah “pesta”, tentunya semua harus bergembira, dan mungkin bernyanyi ria walaupun (mungkin) lagu yg dibawakan tak seiring dengan musik yang dilantunkan. Rekanku bilang “pokok ee jogeed”..he.he.he..

Semakin besar organisasi yang akan melaksanakan suksesi kepengurusan, tentunya semakin banyak kader yang menginginkan posisi puncak, wajar dan manusiawi. Ibarat sosok prajurit dimanapun berada pastilah akan bercita cita menjadi komandan, kernet mobil tentunya akan berusaha untuk menjadi sopir, tak ada yang salah dengan hal tersebut. Menjadi suatu “permasalahan” jika sang prajurit berusaha mengkudeta komandanya secara ilegal dan sang kernet mobil berusaha untuk merebut kendali mobil dengan cara mendorong sopir ditengah perjalanan.

Perhelatan dari setiap organisasi memiliki tata dan aturan yang telah baku serta disepakati bersama, baik itu melalui AD/ART ataupun forum lainnya yang diakui keabsahannya. Sangat tak bijak “membanding2kan” organisasi yang satu dengan yang lainnya dengan maksud (terselubung) menurunkan kepercayaan publik ataupun malah ingin menjegal ‘sparing patner’; “ojo dibanding bandingke…” rekanku di Jawa menyampaikan dalam nyanyian lagunya.

Ciri dari organisasi yang sehat dan memiliki kader yang berkualitas dan tersebar itu adalah; adu program yang sudah, sementara dan yang akan dijalankan. Ukuran keberhasilannya adalah seberapa besar hasil pemandangan umum dan tanggapan laporan tersebut dari organisasi (hirarki) dibawahnya termasuk seberapa banyak yang memberikan dukungan atas laporan kegiatan, keuangan dan lainnya diforum resmi secara periodik, bukan hasil “analisa” segelintir oknum tertentu di warung kopi saat kongkow kongkow.

Suksesi kepengurusan akan baik, jika “lawan” bukan dianggap musuh namun sebagai “sparing patner”, lakukan persaingan dengan cara cara elegan dan bermartabat, tunjukkan bahwa PGRI sebagai organisasi profesi yang berisikan kaum penbangun insan cendikia itu patut dicontoh oleh demokrasi di Indonesia. Masa kalah sama anak OSIS…😄🙏

Parameter baik buruknya diorganisasi itu adalah hasil keputusan kongres, Konkernas, Rakorpimnas dan forum organisasi lainnya yang mengikat. Jika ada yang “lari atau membangkang” hasil dari keputusan tersebut, bisa disebut sebagai “penghianat organisasi”. Semoga tak ada oknum yang melakukan tindakan seperti itu.

Meraih asa bersama itu akan menjadikan kita kuat, dibandingkan dengan memelihara energi negatif yang selalu mencari kelemahan orang lain.

Wassalaam…, tabe.🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *