Menggerakkan Tanpa Memerintah

GURU PENGGERAK INDONESIA - 29 September 2021
Menggerakkan Tanpa Memerintah
  
Penulis
|
Editor

Menggerakkan dan memengaruhi orang lain ketika kita berkuasa bukanlah soal yang sulit. Karena dengan kekuasaan senang atau tidak senang, orang akan ikut apa yang kita perintahkan. Disinilah kelebihan seorang ulil amri dibandingkan dengan ulama atau pendakwa. Pemerintah dengan kekuasaannya akan sangat mudah mengarahkan orang untuk melakukan sesuatu. Sangat jauh berbeda dengan ulama, ustadz, guru, atau pendakwa, upaya mereka adalah upaya moral, membangun kesadaran yang belum tentu diikuti oleh semua orang, karena tidak ada sangsi nyata yang bisa diberikan.

Menggerakkan tanpa kekuasaan adalah sebuah tantangan. Memang tidak mudah, tetapi juga bukan berarti tidak bisa. Menggerakkan tanpa kekuasaan membutuhkan kemampuan dan komitmen yang kuat untuk melakukannya. Menggerakkan tanpa kekuasaan memerlukan contoh nyata dari penggerak, sehingga orang yang digerakkan percaya bahwa apa yang kita lakukan benar adanya. Jadi menggerakkan tanpa kekuasaan akan bersifat alamiah (kesadaran) dari pada menggerakkan dengan kekuasaan yang bersifat memaksa.

Guru menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu tentu bukan persoalan yang sulit, karena siswa memandang guru orang berkuasa atas dirinya. Tetapi guru memengaruhi guru, apalagi kepala sekolah, bukanlah pekerjaan enteng karena dibutuhkan kemampuan memikat dan mempengaruhi. Kira-kira seperti iklan sabun, dibuat sedemikian persuasif dan menarik iklannya, agar orang terpengaruh kemudian mau menggunakan sabun tersebut. Demikianlah dengan guru yang memengaruhi dan menggerakkan lingkungannya, harus dengan pendekatan yang persuasif, promosi-promosi yang positif, serta kemampuan membangun personal brand yang dibaik ditengah komunitas guru yang mungkin sangat beragam pandangan dan sikap.

Setidaknya Itulah upaya yang coba saya lakukan di sekolah saya. Memengaruhi rekan-rekan guru agar bekerja lebih standar mengikuti aturan main yang sudah ditentukan agar kualitas pendidikan yang selama ini stagnan dapat diangkat kembali. Saya selalu mengingatkan dalam forum yang terbuka, pada rapat-rapat bersama bahwa melaksanakan penilaian dengan cara-cara yang benar adalah bagian dari proses pembelajaran. Memberikan kemudahan yang tidak berdasar kepada peserta didik, hanya akan menambah rumitnya permasalahan pendidikan.

Baca Liannya  MENANGIS KARENA TAKUT AZAB

Pendidikan semestinya mampu membangun kesadaran akan tanggungjawab peserta didik atas dirinya dan masa depannya. Guru dan pihak eksternal pada prinsipnya hanya pemberi fasilitas yang dapat membantu atau memudahkan peserta didik belajar. Selebihnya keberhasilan atau kegagalan akan berpulang pada sikap peserta didik sendiri. Allah swt mengatakan “aku tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika bukan kaum itu sendiri yang mengubahnya”. Oleh sebab itu, guru harus mampu menempatkan diri secara tepat dalam membantu peserta agar tidak disalah artikan yang justru menyebabkan kegagalan mereka di kemudian hari.

Suatu sikap yang lumrah apabila guru ingin membantu peserta didiknya berhasil. Namun semestinya keinginan tersebut tidak dilakukan secara instan sehingga memberikan kesan murahan. Pada beberapa kesempatan berbincang-bincang dengan rekan sejawat saya mengingatkan bahwa menaikkan nilai siswa tanpa suatu usaha yang terukur bukanlah suatu pendidikan yang baik terutama pada pembentukan sikap dan prilaku siswa dikemudian hari. Sebab bagaimanapun juga peserta didik yang terbiasa menerima nilai tanpa usaha yang sepadan (serius atau sungguh-sungguh) akan cenderung membentuk sikap negatif, tidak mau bekerja keras, tidak jujur, dan akan membentuk prilaku koruptif.

Sumber gambar: https://www.edumor.com/

Saya menyoroti sikap ini, karena saya menilai salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan di sekolah kami antara lain disebabkan oleh pola pendekatan pembinaan yang kurang tepat dalam menangani peserta didik yang bermasalah. Padahal semestinya setiap tindakan guru di sekolah haruslah berdimensi pendidikan, termasuk memberikan penilaian yang autentik kepada peserta didik. Bahkan nilai rendah pun sebuah pendidikan jika ditangani dan dikelola dengan sebaik-baiknya. Bukankah penilaian itu memiliki dua dimensi? disatu sisi untuk mengetahui penguasaan peserta didik pada kompetensi tertentu, dan disisi lain sebagai refleksi bagi siswa dan guru.

Baca Liannya  Kata Pengantar Buku Jejak Langkah Menuju Penulis Sukses

Setidaknya dengan nilai yang rendah, guru menjadi paham pada unit mana peserta didik tersebut belum tuntas. Dari nilai yang rendah, peserta didik juga belajar memahami dirinya seberapa baik dan kuat usaha belajarnya selama ini. Demikian juga dengan guru akan merefleksi diri dimana kelemahan dan kelebihan pembelajaran yang telah dilakukannya. Jadi sebenarnya dari nilai yang rendah banyak pelajaran berharga yang dapat diambil, bukan hanya peserta didiknya tetapi juga gurunya. Namun sayangnya, pelajaran berharga tersebut kemudian tereliminasi oleh perilaku guru yang tidak tepat. Sehingga bukan hanya pelajaran berharganya yang hilang, tetapi juga memancing munculnya prilaku negatif siswa, seperti tidak mau berusaha keras, tidak jujur, rasa tanggung jawab rendah, dan prilaku negatif lainnya.

Tentu saja prilaku negatif peserta didik akan sangat merugikan dirinya di kemudian hari. Sementara mereka belum menyadarinya saat ini. Mereka tidak sadar bahwa mereka akan menghadapi tantangan masa depan yang lebih berat. Kemudahan-kemudahan yang diberikan guru membuat mereka lengah bahwa dikemudian hari mereka akan menghadapi persaingan hidup yang semakin ketat.  Bukan hanya peserta didik yang tidak menyadari hal ini, tetapi juga guru seakan abai bahwa prilaku mereka akan menjerumuskan peserta didiknya.

Terbukti beberapa tahun terakhir, seleksi CPNS yang biasanya di kelola oleh Pemerintah Daerah, kini dikelola oleh Pemerintah Pusat dengan seleksi ketat melalui tes berbasis komputer. Seleksi di daerah yang biasanya tidak luput dari prilaku KKN, saat ini tidak dapat lagi diandalkan. Setiap calon peserta seleksi harus mengandalkan kemampuan sendiri. Tidak ada bantuan, tidak ada istilah kasihan, tidak ada keluarga atau pihak manapun yang dapat membantu. Tidak ada cara lain untuk lulus kecuali berusaha keras untuk belajar. Bagi mereka yang sudah memiliki sikap yang baik sejak masa pendidikan, tentu tidak ada masalah. Tetapi bagaimana dengan mereka yang terbiasa dengan perilaku “istimewa” sejak menjalani pendidikan? sudah pasti sangat kesulitan.

Baca Liannya  Jurus Jitu Menjadi Penulis Buku Bermutu

Persaingan bukan semakin mudah, tetapi akan semakin ketat. Maka pendidikan sudah seharusnya tidak hanya mempersiapkan peserta didik dengan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga sikap dan nilai-nilai positif. Jika pengetahuan dan keterampilan saat ini bisa jadi akan ketinggalan oleh kemajuan peradaban dimasa depan, maka tidak dengan sikap serta nilai-nilai positif. Nilai-nilai positif yang ditanamkan sejak dini dan kemudian membentuk prilaku baik pada diri setiap peserta didik akan memberikan peluang keberhasilan lebih besar dibandingkan dengan pengetahuan dan keterampilan mereka yang mungkin saja sudah tidak terpakai lagi.

Disinilah pentingnya nilai religius, nasionalis, gotong royong, mandiri, integritas, kerja keras, dan kejujuran ditanamkan sejak dini pada peserta didik. Jika nilai-nilai tersebut bersanding akur dengan keterampilan Critical Thinking and Problem Solving (berpikir kritis dan menyelesaikan masalah), Creativity (kreativitas), Communication Skills (kemampuan berkomunikasi), dan Ability to Work Collaboratively  (kemampuan untuk bekerja sama), maka peserta didik akan lebih siap menghadapi tantangan masa depan yang penuh ketidakpastian.  Dengan demikian sangat keliru jika kita menganggap bahwa memberikan kemudahan atau bantuan kepada peserta didik tanpa dibarengi dengan upaya menanamkan nilai dan prilaku positif adalah sebuah kebaikan. Sebaliknya bisa jadi itu adalah sebuah jebakan bagi masa depan mereka.

Kesadaran inilah yang terus saya sampaikan kepada rekan-rekan sesama guru yang masih percaya bahwa memberikan nilai dengan mudah kepada peserta didik tanpa diikuti pemberian usaha yang layak (tugas) adalah sebuah usaha yang mulia. Alhamdulillah dengan fakta-fakta yang saya tunjukkan bagaimana prilaku siswa yang terbentuk dan apa konsekuensinya yang harus mereka hadapi, kini mulai memahami apa yang saya risaukan. Sebagian guru sudah mencoba memberikan alternatif penyelesaian masalah nilai secara lebih kreatif dengan memberikan tugas yang sepadan meskipun tidak harus menjawab test sebagaimana umumnya.

 

1 Komentar pada “Menggerakkan Tanpa Memerintah”

  1. Wijaya Kusumah berkata:

    tewrima aksih, Silahkan klik https://wijayalabs.blogspot.com/, yuk kita tonton seri PPPK yang sangat mengharukan, omjay ucapkan selamat kepada yang sudah lulus dan yang belum lulus, jangan putus asa, kita terus belajar, semoga kita lulus di tahap berikutnya.

Tinggalkan Komentar


Terpopuler

JUMLAH PENGUNJUNG WEB

  • 0
  • 169
  • 2.238
  • 10.277
  • 632.506
  • 112.459
Close Ads X
Jelajahi

.

.

.

.