Sekolah AMM, Bukan KKM

Sekolah AMM, Bukan hanya KKM
Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd
(Praktisi Pendidikan)

Sekolah mengejar angka-angka itu akan jadi masa lalu. Ranking kelas pun akan menjadi masa lalu. Bahkan kelak anak yang diberi penghargaan ke depan saat wisuda bukan anak peraih nilai atau angka tertinggi melainkan siapa yang paling berkarakter. Siapa yang paling wow, akumulatif dan belajar secara holistik di sekolah.

Eranya PPP (Profile Palajar Pancasila) bukan era angka-angka, melainkan akhlak-akhlak. Akhlak itu terkait sikap mental anak di satuan pendidikan. Bahkan bukankah Nabi Muhammad dan para Nabi dihadirkan ke muka bumi bukan pembawa pesan angka-angka. Melainkan pembawa pesan perbaikan akhlak.

Sekolah dihadirkan oleh negara ke tengah masyarakat bukan untuk mengumpulkan angka-angka. Atau menjadikan angka-angka sebagai “sesembahan” sebagaimana era UN dahulu kala. Kelulusan anak didik era UN ditentukan oleh beberapa angka dari beberapa mata pelajaran. Sebuah anomali industri angka-angka di dunia pendidikan.

Nadiem Makarim telah “membebaskan” anak didik dan masyarakat “menyembah” angka-angka. Saatnya Merdeka Belajar. Saatnya moralitas berbasis literasi numerasi tercermin dalam proses belajar anak didik kita. Bukan hanya KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang masih angka-angka yang harus dicapai anak didik. Anak didik harus mencapai potensi terbaiknya.

Anak didik jangan jadi korban angka-angka. Angka-angka ada di google dan kalkulator. Mentalitas, karakter, akhlak dan bagaimana Ia bersikap dan bertumbuh lebih baik, tidak ada di kalkulator dan google. Mesin dan apa pun produk teknologi tidak mengajarkan mental dan karakter secara humanis. Melainkan mekanis, otomotik dan robotik komputeristik.

Saatnya semua sekolah mengubah pola pengajaran dan pendidikan di ruang-ruang kelas atau dimana pun guru dan anak didik belajar kolaboratif. Hindari mengejar angka-angka semata. Faktanya anak didik bertemu guru tidak tertarik dengan mata pelajaran dan angka-angka, mayoritas demikian. Anak didik tertarik dan merasa butuh gurunya bila Sang Guru mampu menjadi teman belajar terbaik.

Guru yang bagaimana yang diinginkan anak didik? Guru yang doktor? Guru yang magister? Bukan, bukan yang berbau gelar dan akademis. Bahkan bukan guru PNS atau pun honorer. Melainkan setiap anak butuh Sang Guru yang membuat dirinya AMM. Apa AMM? Guru yang mampu membuat anak didik belajar dengan situasi dan keadaan Aman, Menyenangkan dan Mengembangkan potensi dirinya. Guru AMM dibutuhkan setiap anak didik.

Dalam kurikulum protitipe dijelaskan bahwa pembelajaran pada anak didik seharusnya lebih terdiferensiasi, esensialis, kontekstual, holistik, fleksibel, berbasis projek, sederhana, humanis dan merdeka. Kurikulum prototipe memberi garis besar sebagai amanah pemerintah pusat, sekolah melakukan “improvisasi” sesuai keragaman potensi sekolah dan anak didik. Memadukan kedaulatan pemerintah dan kedaulatan sekolah.

Pemerintah punya tujuan, sekolah punya cara dengan gaya dan kiat berdasar potensi realitas internal. Kurikulum pusat secara garis besar memberi “komando” arah tujuan pendidikan nasional dan secara teknis sekolah merespon proaktif dengan caranya. Kutahu yang ku mau. Sekolah adalah wajah pemerintah di depan masyarakat dalam melayani pendidikan, dengan gaya yang dikehendaki masyarakat setempat.

Sekolah yang AMM, aman, menyenangkan dan mengembangkan bakat potensi anak didik adalah harapan kita semua. Keberadaan sekolah di negeri ini sangat beragam potensi dan impotensinya. Sekolah desa dan sekolah kota pun tak sama tantangan dan fasilitasnya. Namun semua harus satu arah lahirnya lulusan berakhlak Pelajar Pancasila.

Tahun 2045 bonus demografi hanya bisa sukses dengan menyiapkan generasi berkarakter Pancasila. Guru radikal, anak didik radikal, ormas radikal dan sejumlah sikap merasa benar sendiri yang lain salah adalah bahaya kebangsaan kita. Masyarakat masa depan yang gemilang hanya bisa dibentuk mulai kemarin, hari ini dan terus ke masa depan.

Layanan pendidikan terbaik adalah harga mati! Sekolah adalah Rumah Ibadah Pendidikan Terbaik di Muka Bumi dari sekolah manusia sebenarnya manusia, akan hidup bermanfaat, memberi manfaat, menebar manfaat. Khidmat manusia hanya dua, iman pada Tuhan dan bermanfaat pada sesama. Sekolah mengajarkan itu!

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.