TEKNIK MENYUSUN RESUME MENJADI BUKU

GURU PENGGERAK INDONESIA - 19 September 2020
TEKNIK MENYUSUN RESUME MENJADI BUKU
  
Penulis
|
Editor

Beberapa hari yang lalu beberapa teman Belajar Menulis sempat bertanya-tanya tentang cara mengirim hasil resume. Keingintahuan kami terkait cara pengiriman file kepada admin Group Belajar Menulis. Alhamdulillah tanggal 18 September 2020, tadi malam mendapatkan pencerahan dari Bapak Raimundus Brian Prasetyawan, yg biasa disapa Mas Brian. Beliau mengawali pertemuan dengan  me-refresh kembali tentang syarat lulus dari pelatihan ini. Lulus artinya peserta mendapat sertifikat pelatihan. Menurut Mas Brian syarat  hanya ada 2. Yaitu mengisi 2 form: Pertama form pengajuan sertifikat yang harus diisi oleh peserta pelatihan group belajar menulis gelombang empat belas, dengan link https://pelatihanbelajarmenulis.blogspot.com/2020/06/form-pengiriman-naskah.html. Setelahnya buku terbit, peserta pelatihan disarankan mengisi  form bukti buku terbit dengan link sebagai berikut: https://pelatihanbelajarmenulis.blogspot.c.om/2020/06/form-bukti-buku-terbit.html.

Jika kedua form itu telah diisi, maka sertifikat akan diberikan. Maka untuk memudahkan pemahaman peserta pelatihan Mas Brian membuat alur proses pengumpulan resume sampai peserta mendapatkan sertifikat. Kalau bisa di buat alurnya, seperti ini: kumpulan resume disatukan => isi form pengajuan sertifikat => naskah kirim ke penerbit => buku terbit => isi form bukti buku terbit => sertifikat diberikan. Menurut Mas Brian sebenarnya buku yang diterbitkan tidak harus kumpulan resume. Buku yang dapat diterima sebagai syarat lulus bisa berupa: (1)Buku kumpulan resume, (2) Buku tema bebas, (3) Buku yang sudah terbit tahun 2020. Namun karena yang paling mudah adalah buku kumpulan resume, maka peserta dapat  memilih membuat buku kumpulan resume.

Untuk itu Mas Brian tadi malam, spesifik membahas pembuatan buku kumpulan resume. Jumlah resume yang dimasukkan dalam naskah buku minimal 20 resume. Jika menginginkan lebih dari 20 bisa saja. Caranya seluruh resume digabung dalam satu file word. Urutan dari file tersebut (1) Cover, (2) Kata Pengantar, (3) Daftar Isi, (4) Isi naskah, (5) Profil Penulis, (6)Sinopsis. Kemudian bapak/ibu peserta pelatihan dapat melakukan setting kertasnya dengan cara: (a) Ukuran kertas A5 (14x20cm), (b) Huruf times new roman ukuran 12, (c) Spasi 1,5, (d) Margin 2 cm semua,  (e) Paragraf rata kiri-kanan (justify). Dengan melakukan setting tersebut, akhirnya peserta dapat mengetahui berapa jumlah halaman bukunya nanti. Sebenarnya untuk setting kertas tersebut tergantung dari masing-masing penerbit. Jadi untuk setting kertas, bisa ditanyakan lagi ke penerbit. Untuk setting kertas di atas untuk penerbit rekanan Mas Brian.

Baca Liannya  Pengumuman Pemenang Lomba Blog Sumpah Pemuda

Kemudian Mas Brian ingin membahas cara merapikan dan mengedit naskah. Jadi ketika peserta pelatihan akan mengirim naskah ke penerbit. Peserta sudah mengedit naskah dengan rapi. Maka peserta pelatihan wajib membaca ulang lagi tulisan setiap bab, siapa tahu ada penulisan atau format tulisan yang kurang pas. Beberapa hal yang harus diperhatikan: (1)Paragraf di setting justify (rata kanan-kiri), (2) Judul bab tidak pakai angka latin. Kalau mau pakai nomor, pakai romawi, (3) Pastikan Jenis, ukuran, dan warna huruf sama semua. Jangan sampai ada huruf ukuran 12, lalu di bab lain ada ukuran hurufnya 13. Warna huruf hitam semua, jangan ada yang abu-abu, (4) Pastikan tidak ada penulisan yang disingkat-singkat seperti: blm, yg, tdk, masing2, dan lainnya. (5) Minimalkan penggunaan penomoran/poin-poin. Supaya naskah lebih rapi. Kalau mau pakai penomoran/poin-poin, gunakan numbering/bullets, (6) Setiap bab baru selalu dimulai di halaman baru. Jangan gabung dengan bab sebelumnya.

Sebenarnya semua hal itu bisa dideteksi dengan membaca ulang naskah dan peserta pelatihan memposisikan diri sebagai pembaca. Jadi jangan hanya sekadar kumpulan resume disatukan. Mas Brian berpesan agar peserta pelatihan mengecek kembali, apakah kelihatan sudah rapi atau belum. Selanjutnya Beliau mau membahas gaya penulisan. Awalnya resume materi pelatihan berbentuk seperti laporan. Namun ketika akan dibukukan maka perlu agak dirombak sehingga kumpulan resume menjadi kumpulan cerita pengalaman (true story). Jadi tidak perlu ada bagian identitas resume seperti ini: (1)Tanggal menerima materi pelatihan, (2) Nama narasumber, (3)Tema materi, (4)Pertemuan ke. Namun semua itu tetap bisa dituliskan dengan cara penulisan lain, yaitu berbaur dan mengalir dalam rangkaian cerita. Jadi untuk tanggal menerima materi pelatihan, nama narasumber, tema/materi, urutan pertemuan, dapat ditulis dalam bentuk paragraf.

Baca Liannya  Asah Ilmu Dengan Amal

Isi naskah tidak sekadar materi atau perkataan-perkataan dari nara sumber saja, peserta pelatihan dapat menyisipkan bagaimana perasaan bapak/ibu ketika menerima materi tersebut. Atau memberi pendapat terhadap materi yang disampaikan narasumber, atau dikaitkan dengan pengalaman pribadi. Jadi dalam menulis naskah, justru ditonjolkan sisi pribadi kita. Karena peserta pelatihan yang sedang bercerita, bukan narasumber. Jika narasumber berkata “saya” maka peserta pelatihan mengubahnya menjadi “beliau” atau disebut namanya. Kalimat langsung narasumber sesekali boleh ditulis, tapi harus menggunakan ketentuan cara menulis kalimat langsung. Sesi tanya jawab boleh disertakan tapi disajikan dalam bentuk narasi/deskriptif. Pilih beberapa saja yang memang penting.

Hal-hal lain yang perlu diperhatikan: (1)Tidak ada  batas waktu penerbitan buku. Kapan pun buku terbit, akan diterima oleh Mas Brian, (2) Biodata narasumber bisa dimasukkan dalam rangkaian cerita, (3) Boleh masukkan gambar tapi jangan terlalu banyak dan memang sangat perlu ilustrasi gambar. Karena buku akan makin tebal. Makin tebal makin tambah biaya cetak, (4)Tidak ada batas panjang tiap resume,(5)Urutan resume tidak harus urut waktu pertemuan, (6) Tidak ada batas minimum tebal naskah. Biasanya naskah kumpulan resume justru lebih dari 80 halaman A5

Tempat menerbitkan buku bebas. Tidak ada ketentuan harus terbitkan di mana. Silakan memilih sendiri penerbitnya. Tapi jika tidak tahu mau diterbitkan di mana, bisa hubungi Mas Brian. Mas Brian memiliki rekanan penerbit indie.  Penerbit Indie artinya penerbit yang pasti menerbitkan naskah tapi biaya penerbitan ditanggung penulis. Penulis mendapat fasilitas penerbitan (1)Desain cover, (2) ISBN, (3) Layout, (4) Edit ringan, (5) Buku bukti terbit, (6) E-Sertifikat. Kalau tidak salah, hari ini pertemuan ke-21. Untuk itu Mas Brian menyarankan peserta pelatihan bisa mulai menyatukan kumpulan resume disertai kelengkapan naskah. Membaca ulang lagi naskahnya, siapa tahu ada yang belum rapi.

Baca Liannya  Sekapur Sirih Dirjen GTK Kemdikbud untuk Buku Kisah Seru Di Balik Tirai Bambu

Jadi inti dari materi malam ini yaitu jangan buru-buru mengirim naskah ke penerbit. Jangan hanya sekadar kumpulan resume yang disertai kelengkapan naskah. Pastikan bahwa naskah juga rapi baik dari sisi tampilan maupun penulisan. Baca ulang lagi seluruh tulisannya sebelum dikirim. Sebagian besar materi yang disampaikan Mas Brian  ini berdasarkan dari pengalaman peserta yang setor naskah ke Beliau untuk diterbitkan. Harapannya naskah dari peserta pelatihan sudah rapi. Beliau cukup menjadi penghubung ke penerbit.

Mas Brianpun berpesan: (1) Mulailah peka bahwa segala aktivitas sehari-hari bisa jadi ide tulisan. Hal-hal kecil bisa jadi topik tulisan. Ide bisa datang dari hal kecil dan dekat dengan kita. Misalnya aktivitas kita sebagai guru. Suka duka melaksanakan PJJ. Cerita tentang variasi pembelajaran yang dilakukan. Hal biasa bagi kita bisa jadi luar biasa bagi orang lain. (2) Beliau pernah dengar dari penerbit andi bahwa naskah yang lolos penerbit mayor merupakan yang beda dari yang lain atau membahas topik kekinian. Jadi silakan cari topik naskah buku yang memang belum diterbitkan penerbit mayor tersebut. (3)Tidak ada batas waktu dalam menerbitkan buku. Untuk sinopsis membahas garis besar isi buku. Sinopsis tampil di cover belakang buku. Sinopsis juga dibuat agar pembaca penasaran dengan isi buku.

Jadi inti dari materi malam ini yaitu jangan buru-buru mengirim naskah ke penerbit. Jangan hanya sekadar kumpulan resume yang disertai kelengkapan naskah. Pastikan bahwa naskah juga rapi baik dari sisi tampilan maupun penulisan.

1 Komentar pada “TEKNIK MENYUSUN RESUME MENJADI BUKU”

  1. Tini Sumartini berkata:

    Alhamdulillaaah di sini banyak ilmu yang kupetik dan kubawa pulang untuk kujadikan resep meracik rangkaian kata menjadi sajian yang renyah dan disukai orang…
    Terimakasih OmJay… salam literasi

Tinggalkan Komentar


Terpopuler

JUMLAH PENGUNJUNG WEB

  • 0
  • 22
  • 2.091
  • 10.130
  • 632.359
  • 112.390
Close Ads X
Jelajahi

.

.

.

.