ULAMA RABBANI DAN 10 PENYAKIT KRONIS GURU

GURU PENGGERAK INDONESIA - 9 September 2020
ULAMA  RABBANI  DAN  10  PENYAKIT  KRONIS  GURU
  
Penulis
|
Editor

Hari ini diadakan rapat rutin ASN  yang dihadiri oleh Penyuluh Agama, Pengawas Agama Islam Sekolah Dasar, Pengawas Madrasah Tingkat Dasar dan para guru di satuan kerja Kecamatan Durenan. Dalam undangannya pertemuan rutin hari ini dalam rangka persiapan pengisian Sistem Informasi Elektronik Kegiatan ASN (SIEKA). Rencananya akan melakukan registrasi dan pengisian program tahunan, bulanan, dan harian. Tepat pukul 09.00 WIB kegiatan dimulai dengan acara:

  1. Kultum oleh penyuluh agama
  2. Sambutan Pengawas Agama Islam Sekolah Dasar
  3. Sambutan Pengawas Madrasah Tingkat Dasar

Pertama, kultum oleh penyuluh agama Kecamatan Durenan. Pada hari ini yang menyampaikan kultum adalah Bapak Miftahul Huda. Beliau menyampaikan materi dengan kalem dan menyejukkan. Pada tauziahnya Beliau menyampaikan seorang guru dapat dikategorikan orang yang berilmu. Orang berilmu yang akan diangkat derajatnya oleh Allah. Guru setiap hari memberikan ilmunya kepada peserta didik. Maka harus tetap bersyukur dan melaksanakan kewajiban dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. Guru juga dikategorikan ulama. Makna ulama adalah orang yang berilmu dan mau mengamalkan ilmunya. Derajat ulama di atas derajat orang yang beriman. Selisih derajat orang yang berilmu dengan orang yang beriman 700 derajat.Tingkatan derajat ke 1 menuju derajat ke 2 sama dengan 500 tahun. Mempunyai ilmu dan mengamalkan pahalanya berlipat ganda.  Maka guru seyogyanya jangan pernah berhenti belajar dan mengamalkannya. Karena belajar dimulai dari buaian sampai ke liang lahat. Tidak ada tuhan yang patut disembah selain Allah. Yang bersaksi bahwa Allah zat yang patut disembah adalah:

  1. Allah (Allah sendiri)
  2. Malaikat
  3. Ahli ilmu (Para penuntut ilmu adalah golongan orang yang berilmu dan mengamalkannya.
Baca Liannya  PUISI “DI HAMPARAN SAJADAH AKU DUDUK BERSIMPUH DAN BERSUJUD”

Orang yang takut kepada Allah adalah para penuntut ilmu (orang-orang yang berilmu).

   Sebagaimana janji Allah sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal  shalih adalah sebaik-baik manusia. Sebaik-baik manusia orang berilmu dan beriman, dan tempatnya di surga. Maka banggalah menjadi pendidik. Meskipun sejatinya mendidik yang baik adalah tatap muka langsung. Namun untuk menjaga kesehatan para siswa dan guru di masa pandemi covid-19 ini pembelajaran dilaksanakan secara daring. Dan bila kita renungkan sejatinya kita dapat ilmu baru. Guru dan siswa lebih menguasai teknologi. Bahkan mendapat keilmuan baru yang harus dinikmati dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Sebagai ASN apakah dapat pahala? Ilmu yang diberikan kepada peserta didik sudah mendapat imbalan berupa gaji dan tunjangan profesi. Menurut Beliau tergantung dari niatnya. Niat yang tulus dan ikhlas  menyampaikan keilmuan kepada peserta didik. Bekerja dengan baik, disiplin dan sungguh-sungguh. Meskipun tunjangan profesi telat tetap bekerja dengan baik. Karena jika Allah menghendaki seseorang hambanya baik maka akan baik ilmu, akhlak dan agamanya. Orang tersebut akan diberi kenikmatan dalam kehidupannya sehari-hari. Maka sebagai seorang pendidik harus merasa bahagia, tidak mengeluh dan bersyukur, tandasnya memotivasi para guru.

Guru adalah ulama, ulama adalah pewaris para nabi. Guru harus bangga menjadi orang yang berilmu. Tidak ada kemuliaan kecuali para pewaris nabi. Dan guru merupakan Ulama Rabbani, guru yang mengajarkan pada anak-anak membaca Alquran, sholat dan mau mengamalkannya. Guru yang paling hebat adalah para pendidik anak usia dini. Guru yang menanamkan pondasi agama pada usia dini sma halnya mengukir di atas batu. Namun jika mengajarkan ilmu pada orang dewasa sama halnya mengukir di atas air. Ketika ilmu diamalkan maka ilmu tersebut akan bermanfaat.

Baca Liannya  Karakter Manusia Saat Pandemi covid19

Kedua, Sambutan Pengawas Agama Islam Sekolah Dasar. Beliau menggaris bawahi apa yang telah disampaikan oleh bapak Miftahul Huda. Bahwa guru adalah Ulama Rabbani, pewaris para nabi dan memiliki kedudukan di bawah malaikat sebagai makhluk yang mengimani adanya Sang Khalik. Namun ditemukan 10 penyakit kronis yang diderita guru dan itu menjadi kendala dalam proses pembelajaran. Penyakit itu antara lain:

  1. TIPES (TIdak Punya Selera mengajar)
  2. MUAL (MUtunya amat Lemah)
  3. KUDIS (KUrang DISiplin)
  4. ASMA (ASal MAsuk)
  5. KUSTA (KUrang STrategi)
  6. TBC (Tidak Bisa Computer)
  7. ASAMM URAT (ASAl Menyampaikan Materi Tanpa URutan)
  8. LESU (LEmah SUmber mengajar)
  9. DIARE (DIkelas Anak-anak meREmehkan)
  10. GINJAL (Gajinya Nihil Jarang Aktif sering terLambat)

TIPES (TIdak Punya Selera mengajar), hal ini terjadi karena gajinya telah habis akibat banyak tanggungan. Maka sebagai guru harus pandai untuk mengatur keuangan. MUAL (MUtunya amat Lemah), agar tidak mengalami hal ini sebagai Ulama Rabbani harus mau belajar, menguasai banyak strategi dan teknik mengajar. Dalam melakukan pembelajaran sebaiknya menggunakan multi metode. Agar materi yang disampaikan tidak menjemukan. KUDIS (KUrang DISiplin), mengajar pada pendidikan dasar harus disiplin karena guru menjadi teladan bagi anak didiknya. Disiplin adalah karakter utama yang mendasari kesuksusan kelak ketika anak-anak dewasa. ASMA (ASal MAsuk), guru yang asal masuk tanpa persiapan, pedoman mengajar/dasar mengajar hanya menggunakan Lembar Kerja Siswa. KUSTA (KUrang STArategi), jika mengajar tanda perencanaan dan strategi mengajar yang benar maka pembelajaran tidak menarik. TBC (Tidak Bisa Computer), guru harus menguasai penggunaan computer dan teknologi informasi agar ketika melaksanakan pembelajaran mudah dikuasai anak.  ASAMM  URAT (ASAl Menyampaikan Materi Tanpa URutan), ketika menyampaikan materi akan mudah dikontrol jika membuat analisis hari efektif dan membuat RPP. LESU (LEmah SUmber mengajar), bisa di atasi dengan banyak membaca referensi mengajar dengan banyak membaca buku. DIARE (DIkelas Anak-anak meREmehkan), hal ini terjadinya karena cara mengajarnya tidak menarik dan monoton.GINJAL (Gajinya Nihil Jarang Aktif sering terLambat), karena gajinya habis maka seringkali guru mencari pekerjaan sambilan sehingga sering terlambat.

Baca Liannya  Kata Pengantar Omjay untuk Buku Bu Suyati

Ketiga, Sambutan Pengawas Madrasah Tingkat Dasar. Dalam sambutannya pengawas madrasah menyampaikan meskipun di masa pandemi  guru tetap masuk sekolah karena jika da kesulitan dalam pembimbingan daring segera bisa di atasi. Guru harus menata niat mengajar karena Allah. Dan senantiasa bersyukur meski dimasa pandemi karena jika bersyukur maka Allah akan menambah nikmat. Intinya mengajar bukan sekedar mencari uang. Tetapi juga menghormati ilmu, maka otomatis akan diangkat derajatnya oleh Allah. Selanjutnya acara diisi dengan mengerjakan SEIKA dengan mengentri kegiatan tugas dalam jabatan seperti: merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran, mengevaluasi, menganalisa hasil belajar dan melakukan tindak lanjut. Lalu memasukkan pengembangan keprofesian berkelanjutan, melaksanakan publikasi ilmiah, menyusun karya inovatif, memodifikasi peraga pembelajaran komplek, pendukung tugas guru untuk  dimasukkan ke aplikasi program tahunan.

3 Komentar pada “ULAMA RABBANI DAN 10 PENYAKIT KRONIS GURU”

  1. Wijaya Kusumah berkata:

    terima kasih, tulisannya bagus sekali

  2. MUSLIKAH berkata:

    Terimakasih Omjay. Dari panjenengan saya bisa menulis. Dan terimakasih telah diberi kesempatan bergabung dengan group belajar menulis

Tinggalkan Komentar


Terpopuler

JUMLAH PENGUNJUNG WEB

  • 1
  • 2
  • 1.958
  • 9.820
  • 632.508
  • 112.461
Close Ads X
Jelajahi

.

.

.

.